| Sabia, 13 September 2014 |
Kala itu,
menjadi seorang calon ibu membuat saya bersemangat untuk belajar banyak hal.
Fokus saya pada saat itu adalah menggali informasi sebanyak mungkin tentang ASI
karena keinginan untuk berhasil menyusui selama 2 tahun sangat besar. Begitu
Sabia; Bi; lahir ke dunia, ternyata menyusui tidak semudah yang saya bayangkan.
Di bulan kelima usianya, Bi ternyata termasuk bayi tongue tied dan harus di-insisi.
Apa itu tongue tied dan insisi? Di bawah ini, saya akan mencoba
berbagi kisah tentang perjuangan saya ketika menyusui Bi.
28 Agustus 2014
pukul 16.20 Bi dikeluarkan dari perut saya. “Air ketubannya sudah hijau, Bu,”
kata dokter yang meangani saya di meja operasi.
“Akhirnya kamu
keluar juga, Ndhuk. Alhamdulillah, “
syukur saya panjatkan.
Perjuangan baru
saja dimulai karena PR pertama yang harus dilakukan seorang ibu setelah operasi
adalah belajar memiringkan badan, belajar duduk dan belajar berjalan.
Duh,ternyata nyerinya terasa amat sangat menyiksa, ya? Selagi saya terus memulihkan
diri selama di rumah sakit bersalin, Bi juga langsung tidur sekamar dengan
ibunya. Sayangnya, ketika saya ingin
mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), fasilitas kesehatan tersebut tidak
melayani IMD. Kecewalah saya untuk kedua kalinya. Ketika saya gagal melakukan
persalinan secara normal, itu merupakan kekecewaan saya yang pertama. Ah ,
sudahlah. Allah sudah sangat baik karena disaat semua dokter kandungan di
Madiun sedang seminar di Bali, masih ada satu dokter kandungan yang bertugas di
rumah sakit bersalin tersebut. Sudah merasa gagal sebagai ibu baru selama dua
kali, membuat saya bertekad untuk sukses menyusui sampai 2 tahun. Ya, harus!
Selama empat
hari tiga malam di rumah sakit, selama itu pula ASI saya belum kunjung keluar.
Jadi sejak lahir, Bi mengonsumsi susu formula. Namun saya juga tetap
menyusuinya untuk merangsang payudara agar segera memproduksi ASI. Situasi yang
sungguh membuat frustasi karena kondisi pascaoperasi
belum pulih dan di saat yang bersamaan ASI belum keluar.
Ketika kembali
ke rumah, Bi juga sangat menguji ibunya. Dia hampir setiap malam rewel. Saya
juga dilanda kelelahan yang amat sangat karena harus terjaga sepanjang malam,
menggendong dan membuatkan susu untuknya. Pagi menjelang, saya jugamasih harus mencuci botol susunya. Suami yang sangat
mendukung saya memberi ASI juga paham bahwa saat itu mungkin memang susu
formula menjadi solusi untuk sementara waktu. Tapi akhirnya saya tidak tahan
lagi. Saya ingin berhasi ng-ASI. Saya meminta suami untuk menguatkan dan yang
paling sulit adalah menyampaikan niat ini ke orangtua. Bapak dan ibu sangat
menentang keputusan saya karena beliau berdua berkeyakinan bahwa produksi ASI
anaknya memang kurang, tidak cukup untuk Bi. Disertai sedu sedan tangis saya di
depan beliau, keputusan tetap tidak tergoyahkan. Saya ingin menyusui walaupun
dengan susah payah!
Saya mulai
menyimpan susu formula dan botol-botolnya. Bismillah, saya terus menyusui Bi
dengan satu payudara karena puting sebelah kiri saya datar. Ya, saya tahu
walaupun sebenarnya bayi tidak menyusu pada puting, tapi pada areloa payudara.
Namun saya tidak ingin menambah beban stres karena Bi tidak mau menyusu di
payudara kiri. Jadi, satu payudara pun juga sudah cukup. Perjuangan baru saja
dimulai ketika makin hari saya menyadari bahwa Bi menyusu tak seperti bayi pada
umumnya. Bi menyusu lama sekali. Berjam-jam. Pernah suatu waktu, saya
menyusuinya dari pukul 11 siang sampai pukul 3 sore tanpa jeda! Saya mulai
gelisah dan mencoba menghubungi komunitas Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia
(AIMI) di Facebook. Saya menceritakan apa yang terjadi. Seorang konselor
lakstasi di grup tersebut menyarankan untuk segera memeriksakan ke dokter
spesialis anak karena mungkin Bi mengalami tongue
tied. Dignosa awal ini sesuai dengan apa yang saya bayangkan. “Jadi, Bi
termasuk tongue tied?” batin saya.
BERSAMBUNG …








