Wednesday, 25 July 2018

Ayah-Bunda, Tolong Penuhilah Hak-hakku


Ternyata, sudah waktunya memperingati Hari Anak Nasional lagi, ya? Hmm … Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman gambar dari grup percakapan, yang isinya tentang 10 hak anak. Nah, lho! Setelah dibaca satu per satu, mungkinkah selama ini masih ada yang terlewat ketika saya dan suami membersamai Sabia? Tulisan ini murni hanya sebuah refleksi pribadi dari keluarga kecil kami yang masih terus berproses untuk menuju kebaikan bersama-sama.
Jadi, apa sajakah 10 hak anak yang perlu diperhatikan?

1.       Hak untuk bermain
Sejak memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, saya memang ingin fokus bersama anak. Ketika rumah sedang diperbaiki pun, saya sudah meminta izin kepada suami untuk mendapatkan spot  sendiri sebagai tempat bermainnya Sabia. Alhamdulillah, semuanya sesuai dengan bayangan saya selama ini. Sabia pun mendapat pojok bermainnya sendiri, dimana terdapat koleksi buku dan mainannya serta dinding yang saya cat sendiri dengan cat papan tulis agar bisa digambari sepuasnya menggunakan kapur warna-warni. Ada juga dinding yang khusus untuk memajang aneka hasil karya bermainnya bersama saya. Ya, bagi saya harus ada waktu tersendiri untuk bermain bersamanya. Biasanya, sih, pagi dan malam hari.

2.       Hak untuk mendapatkan pendidikan
Sabia akan memasuki usia 4 tahun pada bulan Agustus nanti. Ketika kebanyakan teman bermainnya sudah mulai masuk PAUD, bahkan TK di usia 4, saya masih ingin membuatnya merasa nyaman di rumah saja, bermain dan belajar bersama ibunya. Bukankah yang wajib adalah belajar dan bukan sekolah? Jadi, pendidikan pun juga bisa diajarkan oleh ibunya. Sabia belajar tentang adab, warna,  berhitung, huruf hijaiyah, menghapal surat-surat pendek, kesenian, dll. Saya kira, sudah banyak yang kami lakukan ketika bermain bersama. Bermain sambil belajar dan bermain untuk belajar.

3.       Hak untuk mendapatkan perlindungan
Wih, berat juga, nih pembahasannya. Menurut artikel yang saya baca, hal ini berkaitan dengan melindungi anak dari kekerasan rumah tangga, dari pelecehan seksual, tindak kriminal, dari pekerjaan layaknya orang dewasa, dll. Harus terus berbenah diri, nih, jika amarah saya yang mudah terpicu oleh tantrumnya Sabia, membuat Sabia tidak mendapatkan perlindungan yang layak. Jangan-jangan mudah marah ke anak itu termasuk kekerasan dalam rumah tangga? Bisa saja,kan, anak jadi trauma dengan orangtuanya sendiri karena mereka menjadi sosok yang mudah marah dan bukannya memberikan kenyamanan?  Duh! Naudzubillah min dzalik.

4.       Hak untuk mendapat nama (identitas)
Sudah pasti, setiap nama yang disematkan orangtua kepada anaknya mengandung doa. Saya masih mencoba mengingat makna dari nama Sabia Anindita Rizki. Lupa, euy! Kami dulu memang ingin memberi nama yang tidak terlalu panjang dan agar terkesan sederhana. ‘Sabia’ bermakna memesona, ‘Anindita’ berarti sempurna dan ‘Rizki’ adalah rezeki. Selain itu, karena nama saya dan suami mengandung ‘Rizki’, jadi tak hanya Sabia saja, kelak jika hadir adiknya pun, juga harus menyandang ‘Rizki’. Secara keseluruhan, beginilah doa yang kami sematkan di sebuah nama Sabia Anindita Rizki.
Ndhuk,jadilah perempuan yang memesona dan sempurna ilmu serta akhlaknya dan semoga rezekimu selalu berkah karena kau mengamalkan keduanya dengan baik. 

5.       Hak untuk medapatkan status kebangsaan
Yang in sudah jelas, dong, ya. Satu bangsaku, bangsa Indonesia. Qodarullah, saya mendapatkan jodoh orang Indonesia, suku Jawa. Kegalauan mugkin akan melanda jika ayahnya Sabia adalah orang Korea. Apakah ketika di usia 17 tahun nanti Sabia akan memilih Indonesia atau Korea sebagai status warga negaranya? Pilihan lain, saya yang akan ikut kewarganegaraan suami. Sudah, abaikan tulisan bagian ini, ya. Hahaha.
Pada akhirnya, semoga dengan rangkaian prestasimu kelak, engkau juga bisa mengharumkan nama Indonesia di belahan bumi Allah yang luas ini, ya, Nak. Aamiin.

Bagaimana, Ayah-Bunda? Setelah membaca tulisan ini, apa saja refleksi keluarga Ayah-Bunda tentang hak-hak anak? Masih adakah hak-hak mereka yang belum tertunaikan? Selamat berdiskusi dengan pasangan dan sampai ketemu di bagian ke 2 nanti, ya. Terima kasih. J


No comments:

Post a Comment