Sunday, 2 September 2018

Ketika Sabia Tongue Tied (Bagian 2)

Jadi, apa yang sebenarnya membuat saya sudah berfirasat bahwa Sabia mengalami tongue tied (TT)? Ketika saya mulai banyak mempelajari ilmu tentang ASI, sebagai ‘amunisi’ untuk menyusui Sabia nantinya, TT juga menjadi perhatian yang menarik untuk digali.

Menurut aladokter.com, tongue-tie adalah suatu kelainan dimana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. TT sendiri terjadi pada 4-11% bayi yang baru lahir  dan seringnya menimpa bayi laki-laki. Sebetulnya, pada kondsisi normal, frenulum lidah sudah terpisah sebelum bayi lahir. Sedangkan pada bayi TT, frenulum lidah tetap melekat pada dasar mulut.

Sementara itu, ciri-ciri bayi TT diantaranya adalah menyusunya lama; seperti tidak pernah kenyang; dan berat badannya (BB) tidak naik secara signifikan. Dengan adanya tali lidah inilah yang membuat bayi tidak bisa memompa payudara ibu dengan maksimal, akhirnya ASI hanya keluar sedikit. Dua ciri itulah yang terjadi pada Sabia. Sebagai newborn sampai berusia lima bulan, BB-nya hanya naik dalam hitungan ons, bukan kilogram. Nah, berbekal indikasi itulah saya berkonsultasi dengan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Facebook dan mereka menyarankan untuk memeriksakan ke dokter. Perlu diketahui, tidak semua dokter spesialis anak merupakan ahli laktasi dan pro menyusui. 

Alhamdulillah sekali, ternyata di Madiun ada dr. Diah Rahmi. Beliau adalah dokter spesialis anak yang juga seorang konselor laktasi. Dua hari kemudian saya membawa Sabia ke dr. Rahmi. Deg-deg an juga menunggu diagnosa dari beliau, sampai akhirnya, “Iya, ini tongue-tie, tapi tidak parah. Coba dibetulkan pelekatan menyusuinya,” saran beliau. Memang, beberapa kasus TT bisa diselesaikan tanpa tindakan medis, hanya perlu membetulkan pelekatan menyusui saja. Namun, saya juga sudah siap dengan kemungkinan yang lain. Apa itu? Ya dibaca saja sampai selesai, ya! Hahaha.

Pertemuan dengan dr. Rahmi waktu itu adalah yang pertam dan terakhir. Sabia juga masih menyusu dengan susah payah. Setelah lima bulan paskamelahirkan, sudah waktunya saya dan Sabia kembali pulang bersama suami ke Pasuruan. Konsultasi tentang TT-nya Sabia, saya lanjutkan di Sidoarjo. Alhamdulillah, ada sepasang dokter spesialis anak, suami-istri yang sering menangani masalah TT pada bayi. Di bulan ke lima usianya, saya dan suami membawa Sabia ke Sidoarjo, naik motor pula. Ya walaupun Pasuruan-Sidoarjo itu termasuk dekat, tapi membawa bayi lima bulan naik motor itu juga perjuangan yang membuat saya mewek. Hiks. Sesampainya di RSUD Sidoarjo, kami tak menunggu lama karena sehari sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan dr. Rizal. Ketika masuk ruang periksa, saya menyampaikan hasil diagnosa dari dr. Rahmi. Setelah Sabia diperiksa, dr. Rizal juga memberikan diagnosa yang sama, tongue-tie tipe3, tidak tergolong parah. Memangnya, ada berapa tipe TT? Simak gambar dibawah ini, ya!

www.praborinilactationteam.com

Tipe 1: frenulum terikat sampai ujung lidah.
Tipe 2: frenulum terikat 2-4 mm dari ujung lidah.
Tipe 3: frenulum terikat di tengah lidah, biasanya ketat dan kurang elastis.
Tipe 4: frenulum terikat di pangkal lidah, tebal, tampak mengkilat dan sama sekali tidak elastis.

Saya kemudian bertanya kepada dr. Rizal apakah perlu dilakukan pembedahan (insisi). Beliau menyerahkan semua keputusan kepada keluarga. Menurut keterangan dari beliau pun, jika tidak dilkakukan insisi, ke depannya bisa saja terjadi gangguan makan, bicara tidak lancar dan perkembangan gigi juga sedikit terganggu. Saya sendiri sih, sudah sangat siap dengan insisi. Suami pun juga sepakat. Sesaampainya di rumah, saya langsung menghubungi bapak-ibu. Beliau kemudian datang ke Pasuruan keesokan harinya. Hari itu, kami berangkat lagi ke Sidoarjo, tidak di RSUD melainkan ke Klinik Geo Medika, Waru, Sidoarjo; tempat praktik dr. Rizal dan istri pada sore sampai malam hari. Di situ, untuk pertama kalinya saya bertemu istrinya dr. Rizal; dr. Astri; yang juga seorang konselor laktasi. Beliau kembali menjelaskan tentang insisi dan apa yang harus dilakukan setelah insisi. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 9 malam. Sabia akhirnya dipanggil untuk dilakukan pembedahan. Suami dan akung-nya yang menemani di ruang tindakan. Saya menunggu diruang sebelah. Uti-nya Sabia hilang! Ternyata ibu saya melarikan diri keluar klinik, duduk di trotoar seberang jalan. Gak tega! Hahaha.

Tidak ada pembiusan, entah bagaimana prosesnya namun yang jelas beberapa detik kemudian, saya mendengar tangisan yang tak biasa dari Sabia. Tangisan yang jelas-jelas dia merasa kesakitan. Seketika itu juga, setelah tali pangkal lidahnya dipotong, Sabia langsung diberikan kepada saya yang sudah menunggu di ruang sebelah. Penanganan selanjutnya adalah dia harus langsung menyusu, dengan mulut yang masih ada sisa-sisa darah setelah pembedahan. Sabia juga langsung merasa nyaman menyusu pada ibunya. Tangisnya reda seketika. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika kami keluar klinik. Selesai sudah. Iya, semuanya hanya secepat jentikan jari. Tidak ada obat, tidak apa perawatan lain lagi setelah pembedahan. Obatnya ya hanya terus menyusu. Sabia juga tidak panas, rewel, atau semacamnya. Dia hebat. Kami hanya 2-3 kali kontrol untuk memantau BB-nya yang Alhamdulillah perlahan naik cukup baik.

Walaupun sampai sekarang masih terjadi perdebatan perlu tidaknya insisi, karena seiring waktu nanti, tali lidah akan lepas dengan sendirinya.  Dalam tipe TT ke 1, yang paling parah pun, sebenarnya jika pelekatan menyusuinya baik dan benar, pembedahan tidak perlu dilakukan. Bagi saya sendiri seperti yang sudah saya ceritakan di bagian ke 1 lalu, menyusui dengan satu payudara saja sudah amat melelahkan, apalagi ditambah dengan kondisi TT Sabia. Pembedahan sungguh sangat membantu mengurangi stress saya. Alhamdulillah, walaupun bukan tergolong bayi yang gemuk, kami sudah berhasil melewati menysui dengan susah payah ini. Dia pun mengakhiri ng-ASI juga tanpa drama, tidak sampai tantrum karena harus dipisah dari ASI kesayangannya. Hahaha. Well done, Buk Bi dan Ndhuk Bi. Sehat  selalu, ya!

Terima kasih bagi yang sudah menunggu kelanjutan dari kisah ini, ya! Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Salam hangat dan semangat,
Buk Bia



No comments:

Post a Comment