Menurut
aladokter.com, tongue-tie adalah
suatu kelainan dimana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang
terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian
tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. TT sendiri terjadi pada
4-11% bayi yang baru lahir dan seringnya
menimpa bayi laki-laki. Sebetulnya, pada kondsisi normal, frenulum lidah sudah
terpisah sebelum bayi lahir. Sedangkan pada bayi TT, frenulum lidah tetap
melekat pada dasar mulut.
Sementara itu, ciri-ciri
bayi TT diantaranya adalah menyusunya lama; seperti tidak pernah kenyang; dan
berat badannya (BB) tidak naik secara signifikan. Dengan adanya tali lidah inilah yang membuat bayi tidak bisa memompa payudara ibu dengan maksimal, akhirnya ASI hanya keluar sedikit. Dua ciri itulah yang terjadi
pada Sabia. Sebagai newborn sampai
berusia lima bulan, BB-nya hanya naik dalam hitungan ons, bukan kilogram. Nah,
berbekal indikasi itulah saya berkonsultasi dengan Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia (AIMI) di Facebook dan mereka menyarankan untuk memeriksakan ke
dokter. Perlu diketahui, tidak semua dokter spesialis anak merupakan ahli
laktasi dan pro menyusui.
Alhamdulillah sekali, ternyata di Madiun ada dr. Diah
Rahmi. Beliau adalah dokter spesialis anak yang juga seorang konselor laktasi. Dua
hari kemudian saya membawa Sabia ke dr. Rahmi. Deg-deg an juga menunggu
diagnosa dari beliau, sampai akhirnya, “Iya, ini tongue-tie, tapi tidak parah. Coba dibetulkan pelekatan
menyusuinya,” saran beliau. Memang, beberapa kasus TT bisa diselesaikan tanpa
tindakan medis, hanya perlu membetulkan pelekatan menyusui saja. Namun, saya
juga sudah siap dengan kemungkinan yang lain. Apa itu? Ya dibaca saja sampai
selesai, ya! Hahaha.
Pertemuan dengan
dr. Rahmi waktu itu adalah yang pertam dan terakhir. Sabia juga masih menyusu
dengan susah payah. Setelah lima bulan paskamelahirkan, sudah waktunya saya dan
Sabia kembali pulang bersama suami ke Pasuruan. Konsultasi tentang TT-nya
Sabia, saya lanjutkan di Sidoarjo. Alhamdulillah, ada sepasang dokter spesialis
anak, suami-istri yang sering menangani masalah TT pada bayi. Di bulan ke lima
usianya, saya dan suami membawa Sabia ke Sidoarjo, naik motor pula. Ya walaupun
Pasuruan-Sidoarjo itu termasuk dekat, tapi membawa bayi lima bulan naik motor
itu juga perjuangan yang membuat saya mewek. Hiks. Sesampainya di RSUD
Sidoarjo, kami tak menunggu lama karena sehari sebelumnya, saya sudah membuat
janji dengan dr. Rizal. Ketika masuk ruang periksa, saya menyampaikan hasil
diagnosa dari dr. Rahmi. Setelah Sabia diperiksa, dr. Rizal juga memberikan
diagnosa yang sama, tongue-tie tipe3,
tidak tergolong parah. Memangnya, ada berapa tipe TT? Simak gambar dibawah ini,
ya!
![]() |
| www.praborinilactationteam.com |
Tipe 1: frenulum
terikat sampai ujung lidah.
Tipe 2: frenulum
terikat 2-4 mm dari ujung lidah.
Tipe 3: frenulum
terikat di tengah lidah, biasanya ketat dan kurang elastis.
Tipe 4: frenulum
terikat di pangkal lidah, tebal, tampak mengkilat dan sama sekali tidak
elastis.
Saya kemudian
bertanya kepada dr. Rizal apakah perlu dilakukan pembedahan (insisi). Beliau menyerahkan semua
keputusan kepada keluarga. Menurut keterangan dari beliau pun, jika tidak
dilkakukan insisi, ke depannya bisa saja terjadi gangguan makan, bicara tidak
lancar dan perkembangan gigi juga sedikit terganggu. Saya sendiri
sih, sudah sangat siap dengan insisi.
Suami pun juga sepakat. Sesaampainya di rumah, saya langsung menghubungi
bapak-ibu. Beliau kemudian datang ke Pasuruan keesokan harinya. Hari itu, kami
berangkat lagi ke Sidoarjo, tidak di RSUD melainkan ke Klinik Geo Medika, Waru,
Sidoarjo; tempat praktik dr. Rizal dan istri pada sore sampai malam hari. Di situ,
untuk pertama kalinya saya bertemu istrinya dr. Rizal; dr. Astri; yang juga
seorang konselor laktasi. Beliau kembali menjelaskan tentang insisi dan apa yang harus dilakukan
setelah insisi. Waktu sudah hampir
menunjukkan pukul 9 malam. Sabia akhirnya dipanggil untuk dilakukan pembedahan.
Suami dan akung-nya yang menemani di ruang tindakan. Saya menunggu diruang
sebelah. Uti-nya Sabia hilang! Ternyata ibu saya melarikan diri keluar klinik,
duduk di trotoar seberang jalan. Gak tega! Hahaha.
Tidak ada pembiusan,
entah bagaimana prosesnya namun yang jelas beberapa detik kemudian, saya
mendengar tangisan yang tak biasa dari Sabia. Tangisan yang jelas-jelas dia
merasa kesakitan. Seketika itu juga, setelah tali pangkal lidahnya dipotong,
Sabia langsung diberikan kepada saya yang sudah menunggu di ruang sebelah.
Penanganan selanjutnya adalah dia harus langsung menyusu, dengan mulut yang masih
ada sisa-sisa darah setelah pembedahan. Sabia juga langsung merasa nyaman menyusu
pada ibunya. Tangisnya reda seketika. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam
ketika kami keluar klinik. Selesai sudah. Iya, semuanya hanya secepat jentikan
jari. Tidak ada obat, tidak apa perawatan lain lagi setelah pembedahan. Obatnya
ya hanya terus menyusu. Sabia juga tidak panas, rewel, atau semacamnya. Dia
hebat. Kami hanya 2-3 kali kontrol untuk memantau BB-nya yang Alhamdulillah
perlahan naik cukup baik.
Walaupun sampai
sekarang masih terjadi perdebatan perlu tidaknya insisi, karena seiring waktu nanti, tali lidah akan lepas dengan sendirinya. Dalam tipe TT ke 1, yang paling parah pun,
sebenarnya jika pelekatan menyusuinya baik dan benar, pembedahan tidak perlu
dilakukan. Bagi saya
sendiri seperti yang sudah saya ceritakan di bagian ke 1 lalu, menyusui dengan
satu payudara saja sudah amat melelahkan, apalagi ditambah dengan kondisi TT
Sabia. Pembedahan sungguh sangat membantu mengurangi stress saya.
Alhamdulillah, walaupun bukan tergolong bayi yang gemuk, kami sudah berhasil
melewati menysui dengan susah payah ini. Dia pun mengakhiri ng-ASI juga tanpa
drama, tidak sampai tantrum karena harus dipisah dari ASI kesayangannya.
Hahaha. Well done, Buk Bi dan Ndhuk Bi. Sehat
selalu, ya!
Terima kasih
bagi yang sudah menunggu kelanjutan dari kisah ini, ya! Semoga bermanfaat dan
menginspirasi.
Salam hangat dan
semangat,
Buk Bia










