Sunday, 2 September 2018

Ketika Sabia Tongue Tied (Bagian 2)

Jadi, apa yang sebenarnya membuat saya sudah berfirasat bahwa Sabia mengalami tongue tied (TT)? Ketika saya mulai banyak mempelajari ilmu tentang ASI, sebagai ‘amunisi’ untuk menyusui Sabia nantinya, TT juga menjadi perhatian yang menarik untuk digali.

Menurut aladokter.com, tongue-tie adalah suatu kelainan dimana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. TT sendiri terjadi pada 4-11% bayi yang baru lahir  dan seringnya menimpa bayi laki-laki. Sebetulnya, pada kondsisi normal, frenulum lidah sudah terpisah sebelum bayi lahir. Sedangkan pada bayi TT, frenulum lidah tetap melekat pada dasar mulut.

Sementara itu, ciri-ciri bayi TT diantaranya adalah menyusunya lama; seperti tidak pernah kenyang; dan berat badannya (BB) tidak naik secara signifikan. Dengan adanya tali lidah inilah yang membuat bayi tidak bisa memompa payudara ibu dengan maksimal, akhirnya ASI hanya keluar sedikit. Dua ciri itulah yang terjadi pada Sabia. Sebagai newborn sampai berusia lima bulan, BB-nya hanya naik dalam hitungan ons, bukan kilogram. Nah, berbekal indikasi itulah saya berkonsultasi dengan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Facebook dan mereka menyarankan untuk memeriksakan ke dokter. Perlu diketahui, tidak semua dokter spesialis anak merupakan ahli laktasi dan pro menyusui. 

Alhamdulillah sekali, ternyata di Madiun ada dr. Diah Rahmi. Beliau adalah dokter spesialis anak yang juga seorang konselor laktasi. Dua hari kemudian saya membawa Sabia ke dr. Rahmi. Deg-deg an juga menunggu diagnosa dari beliau, sampai akhirnya, “Iya, ini tongue-tie, tapi tidak parah. Coba dibetulkan pelekatan menyusuinya,” saran beliau. Memang, beberapa kasus TT bisa diselesaikan tanpa tindakan medis, hanya perlu membetulkan pelekatan menyusui saja. Namun, saya juga sudah siap dengan kemungkinan yang lain. Apa itu? Ya dibaca saja sampai selesai, ya! Hahaha.

Pertemuan dengan dr. Rahmi waktu itu adalah yang pertam dan terakhir. Sabia juga masih menyusu dengan susah payah. Setelah lima bulan paskamelahirkan, sudah waktunya saya dan Sabia kembali pulang bersama suami ke Pasuruan. Konsultasi tentang TT-nya Sabia, saya lanjutkan di Sidoarjo. Alhamdulillah, ada sepasang dokter spesialis anak, suami-istri yang sering menangani masalah TT pada bayi. Di bulan ke lima usianya, saya dan suami membawa Sabia ke Sidoarjo, naik motor pula. Ya walaupun Pasuruan-Sidoarjo itu termasuk dekat, tapi membawa bayi lima bulan naik motor itu juga perjuangan yang membuat saya mewek. Hiks. Sesampainya di RSUD Sidoarjo, kami tak menunggu lama karena sehari sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan dr. Rizal. Ketika masuk ruang periksa, saya menyampaikan hasil diagnosa dari dr. Rahmi. Setelah Sabia diperiksa, dr. Rizal juga memberikan diagnosa yang sama, tongue-tie tipe3, tidak tergolong parah. Memangnya, ada berapa tipe TT? Simak gambar dibawah ini, ya!

www.praborinilactationteam.com

Tipe 1: frenulum terikat sampai ujung lidah.
Tipe 2: frenulum terikat 2-4 mm dari ujung lidah.
Tipe 3: frenulum terikat di tengah lidah, biasanya ketat dan kurang elastis.
Tipe 4: frenulum terikat di pangkal lidah, tebal, tampak mengkilat dan sama sekali tidak elastis.

Saya kemudian bertanya kepada dr. Rizal apakah perlu dilakukan pembedahan (insisi). Beliau menyerahkan semua keputusan kepada keluarga. Menurut keterangan dari beliau pun, jika tidak dilkakukan insisi, ke depannya bisa saja terjadi gangguan makan, bicara tidak lancar dan perkembangan gigi juga sedikit terganggu. Saya sendiri sih, sudah sangat siap dengan insisi. Suami pun juga sepakat. Sesaampainya di rumah, saya langsung menghubungi bapak-ibu. Beliau kemudian datang ke Pasuruan keesokan harinya. Hari itu, kami berangkat lagi ke Sidoarjo, tidak di RSUD melainkan ke Klinik Geo Medika, Waru, Sidoarjo; tempat praktik dr. Rizal dan istri pada sore sampai malam hari. Di situ, untuk pertama kalinya saya bertemu istrinya dr. Rizal; dr. Astri; yang juga seorang konselor laktasi. Beliau kembali menjelaskan tentang insisi dan apa yang harus dilakukan setelah insisi. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 9 malam. Sabia akhirnya dipanggil untuk dilakukan pembedahan. Suami dan akung-nya yang menemani di ruang tindakan. Saya menunggu diruang sebelah. Uti-nya Sabia hilang! Ternyata ibu saya melarikan diri keluar klinik, duduk di trotoar seberang jalan. Gak tega! Hahaha.

Tidak ada pembiusan, entah bagaimana prosesnya namun yang jelas beberapa detik kemudian, saya mendengar tangisan yang tak biasa dari Sabia. Tangisan yang jelas-jelas dia merasa kesakitan. Seketika itu juga, setelah tali pangkal lidahnya dipotong, Sabia langsung diberikan kepada saya yang sudah menunggu di ruang sebelah. Penanganan selanjutnya adalah dia harus langsung menyusu, dengan mulut yang masih ada sisa-sisa darah setelah pembedahan. Sabia juga langsung merasa nyaman menyusu pada ibunya. Tangisnya reda seketika. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika kami keluar klinik. Selesai sudah. Iya, semuanya hanya secepat jentikan jari. Tidak ada obat, tidak apa perawatan lain lagi setelah pembedahan. Obatnya ya hanya terus menyusu. Sabia juga tidak panas, rewel, atau semacamnya. Dia hebat. Kami hanya 2-3 kali kontrol untuk memantau BB-nya yang Alhamdulillah perlahan naik cukup baik.

Walaupun sampai sekarang masih terjadi perdebatan perlu tidaknya insisi, karena seiring waktu nanti, tali lidah akan lepas dengan sendirinya.  Dalam tipe TT ke 1, yang paling parah pun, sebenarnya jika pelekatan menyusuinya baik dan benar, pembedahan tidak perlu dilakukan. Bagi saya sendiri seperti yang sudah saya ceritakan di bagian ke 1 lalu, menyusui dengan satu payudara saja sudah amat melelahkan, apalagi ditambah dengan kondisi TT Sabia. Pembedahan sungguh sangat membantu mengurangi stress saya. Alhamdulillah, walaupun bukan tergolong bayi yang gemuk, kami sudah berhasil melewati menysui dengan susah payah ini. Dia pun mengakhiri ng-ASI juga tanpa drama, tidak sampai tantrum karena harus dipisah dari ASI kesayangannya. Hahaha. Well done, Buk Bi dan Ndhuk Bi. Sehat  selalu, ya!

Terima kasih bagi yang sudah menunggu kelanjutan dari kisah ini, ya! Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Salam hangat dan semangat,
Buk Bia



Sunday, 26 August 2018

Ketika Sabia Tongue Tied (Bagian 1)


Sabia, 13 September 2014
Kala itu, menjadi seorang calon ibu membuat saya bersemangat untuk belajar banyak hal. Fokus saya pada saat itu adalah menggali informasi sebanyak mungkin tentang ASI karena keinginan untuk berhasil menyusui selama 2 tahun sangat besar. Begitu Sabia; Bi; lahir ke dunia, ternyata menyusui tidak semudah yang saya bayangkan. Di bulan kelima usianya, Bi ternyata termasuk bayi tongue tied dan harus di-insisi. Apa itu tongue tied dan insisi? Di bawah ini, saya akan mencoba berbagi kisah tentang perjuangan saya ketika menyusui Bi.

28 Agustus 2014 pukul 16.20 Bi dikeluarkan dari perut saya. “Air ketubannya sudah hijau, Bu,” kata dokter yang meangani saya di meja operasi.
“Akhirnya kamu keluar juga, Ndhuk. Alhamdulillah, “ syukur saya panjatkan.
Perjuangan baru saja dimulai karena PR pertama yang harus dilakukan seorang ibu setelah operasi adalah belajar memiringkan badan, belajar duduk dan belajar berjalan. Duh,ternyata nyerinya terasa amat sangat menyiksa, ya? Selagi saya terus memulihkan diri selama di rumah sakit bersalin, Bi juga langsung tidur sekamar dengan ibunya.  Sayangnya, ketika saya ingin mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), fasilitas kesehatan tersebut tidak melayani IMD. Kecewalah saya untuk kedua kalinya. Ketika saya gagal melakukan persalinan secara normal, itu merupakan kekecewaan saya yang pertama. Ah , sudahlah. Allah sudah sangat baik karena disaat semua dokter kandungan di Madiun sedang seminar di Bali, masih ada satu dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit bersalin tersebut. Sudah merasa gagal sebagai ibu baru selama dua kali, membuat saya bertekad untuk sukses menyusui sampai 2 tahun. Ya, harus!

Selama empat hari tiga malam di rumah sakit, selama itu pula ASI saya belum kunjung keluar. Jadi sejak lahir, Bi mengonsumsi susu formula. Namun saya juga tetap menyusuinya untuk merangsang payudara agar segera memproduksi ASI. Situasi yang sungguh membuat frustasi karena kondisi pascaoperasi belum pulih dan di saat yang bersamaan ASI belum keluar.

Ketika kembali ke rumah, Bi juga sangat menguji ibunya. Dia hampir setiap malam rewel. Saya juga dilanda kelelahan yang amat sangat karena harus terjaga sepanjang malam, menggendong dan membuatkan susu untuknya. Pagi menjelang, saya jugamasih  harus mencuci botol susunya. Suami yang sangat mendukung saya memberi ASI juga paham bahwa saat itu mungkin memang susu formula menjadi solusi untuk sementara waktu. Tapi akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya ingin berhasi ng-ASI. Saya meminta suami untuk menguatkan dan yang paling sulit adalah menyampaikan niat ini ke orangtua. Bapak dan ibu sangat menentang keputusan saya karena beliau berdua berkeyakinan bahwa produksi ASI anaknya memang kurang, tidak cukup untuk Bi. Disertai sedu sedan tangis saya di depan beliau, keputusan tetap tidak tergoyahkan. Saya ingin menyusui walaupun dengan susah payah!

Saya mulai menyimpan susu formula dan botol-botolnya. Bismillah, saya terus menyusui Bi dengan satu payudara karena puting sebelah kiri saya datar. Ya, saya tahu walaupun sebenarnya bayi tidak menyusu pada puting, tapi pada areloa payudara. Namun saya tidak ingin menambah beban stres karena Bi tidak mau menyusu di payudara kiri. Jadi, satu payudara pun juga sudah cukup. Perjuangan baru saja dimulai ketika makin hari saya menyadari bahwa Bi menyusu tak seperti bayi pada umumnya. Bi menyusu lama sekali. Berjam-jam. Pernah suatu waktu, saya menyusuinya dari pukul 11 siang sampai pukul 3 sore tanpa jeda! Saya mulai gelisah dan mencoba menghubungi komunitas Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Facebook. Saya menceritakan apa yang terjadi. Seorang konselor lakstasi di grup tersebut menyarankan untuk segera memeriksakan ke dokter spesialis anak karena mungkin Bi mengalami tongue tied. Dignosa awal ini sesuai dengan apa yang saya bayangkan. “Jadi, Bi termasuk tongue tied?” batin saya.

BERSAMBUNG …

Saturday, 18 August 2018

It’s (not) Only Words – DIY


Halo, bertemu lagi dengan Buk Bia. Seperti janji saya pada tulisan terakhir kemarin, kali ini waktunya membahas tentang pajangan DIY yang sudah lebih dari setahun terpajang cantik di dinding rumah. Sebenarnya inspirasi ber-DIY saya lebih sering didapat secara tiba-tiba. Mak cling gitu, lho. Terkadang hasil berburu di media sosial, terutama ketika berseluncur di instagram juga bisa berbuah ide. “Ah, daripada beli, kayaknya bikin sendiri juga bisa, kok.” Biasanya terbersit pikiran begitu kalau menemukan dekorasi lucu-lucu di instagram. 

Tentang pajangan dinding yang akan saya bahas pada tulisan ini, idenya datang dari hobi jalan-jalan keluarga yang selama ini sering kami lakukan di akhir pekan. Tidak harus keluar kota, hanya berburu kuliner setelah menyusuri sawah di sekitar pedesaan pun juga sudah cukup. Karena itulah saya ingin menempelkan quote di rumah yang bertuliskan tentang perjalanan. Kalimatnya juga sudah saya dapat jauh-jauh hari, yang ternyata di dalam Al-Qur’an pun ada ayat yang membahas tentang perjalanan. Ya, karena bumi Allah ini luas, maka pergilah sejauh kau bisa agar bisa belajar banyak hal dan mengambil hikmah atas ciptaan-Nya. Berdasarkan ayat itu jugalah yang membuat saya bermimpi jika kelak bisa menginjakkan kaki di belahan bumi Allah yang lain bersama keluarga. InsyaaAllah.

Oke. Jadi, untuk membuat pajangan dinding ini, bahan utamanya adalah ranting-ranting pohon mangga yang saya dapatkan ketika mudik ke Madiun. Ya, waktu itu bapak menebangi ranting-ranting yang sudah liar, kemudian saya langsung memungutnya, memilah-milah ranting sesuai panjang dan ketebalannya dan dibawalah pulang ke Pasuruan. Rantingnya pun hasil impor, deh. Hehehe.

Inilah bahan-bahan yang harus disiapkan:
  • Kertas karton tebal
  • Kertas asturo hitam
  • Ranting-ranting pohon
  • Spidol silver atau emas
  • Penggaris & pensil
  • Lem tembak
  • Tali

Sekarang, bagaimana memulainya?
  1. Ukur kertas karton sesuai dengan besar pajangan dinding yang diinginkan, kemudian gunting.
  2. Ukur kertas asturo hitam, yang nantinya akan ditempel di tengah-tengah kertas karton. Ingat, Ukurankertas asturo hitam harus lebih kecil daripada kertas karton. Lalu gunting.
  3. Ambil kertas asturo hitam yang sudah digunting. Mulilah memberi garis tipis sebagai alat bantu agar ketika menulis kalimat nanti, tulisannya tidak miring.
  4. Mulailah menulis kalimat yang diinginkan dengan menggunakan spidol silver atau emas. Pastikan menulis dengan pas dan rapi.
  5. Rekatkan kertas asturo hitam yang sudah bertuliskan kalimat indah tadi, di tengah-tengah kertas karton.
  6. Mulailah susun ranting-ranting pohon sebagai piguranya, di setiap sisi kertas karton. Rekatkan dengan lem tembak.
  7. Ukur tali secukupnya, gunting dan rekatkan tiap ujungnya di bagian belakang kertas karton menggunakan lem tembak.
     tampak belakang
  8. Pajangan dinding siap dipasang.


Sebagai pelengkap dekorsi dinding ini, saya juga menggantung tiga telenan yang berisi tempelan gambar negara-negara yang mejadi impian untuk dikunjungi kelak. Aamiin. Cara membuatnya pun juga sangat mudah.

  1. Telenannya, saya beli melalui instagram dengan harga Rp7.500 per bijinya. Murah, kan?
  2. Gambar-gambarnya cukup mengambil dari internet saja, dicetak kemudian dilaminating.
  3. Rekatkan gambar-gambar tersebut pada telenan dengan menggunakan double tape.
  4. Untuk mempercantik telenan, pasang pita di ujung telenan. Kali ini, saya menggunakan tali jerami kecil untuk menghias ujungnya.
  5. Telenan siap mempercantik dinding rumah.

Inilah hasil kreativitas saya yang sebenarnya sudah berumur setahun lebih. Waktu itu hanya di-posting di media sosial saja dan baru kali ini bisa berbagi step by step nya lewat tulisan. Semoga bermanfaat, menginspirasi dan selamat mencoba. Oh ya, terima kasih sudah berkenan membaca artikel ini. J


Salam hangat dan semangat,

Buk Bia

Friday, 17 August 2018

Menyulap Batu Menjadi Kaktus


Kapan tepatnya bermula, tanpa sadar Buk Bia jadi suka banget ber-DIY. Sepertinya sudah menikmati bikin ini itu dari dulu, tapi jadi semakin aktif ketika ada Bi dan mempunyai rumah sendiri. Mulai dari membuat mainan untuk Bi atau untuk keperluan mempercantik rumah. Apalagi ketika beberapa tahun belakangan, sedang musimnya rumah dengan tema shabby. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tema tersebut pasti rumahnya diisi dengan aneka perabotan unik dan lucu. Nah, beberapa waktu lalu Buk Bia menemukan video dari facebook berupa tutorial membuat kaktus dari batu. Lucu banget dan tangannnya Buk Bi juga sudah mulai gatal untuk berkreasi lagi.

Sebenarnya tahun lalu Buk Bi pernah membeli banyak kaktus hias untuk ditaruh di dalam rumah. Memilh kaktus karena menurut artikel yang pernah Buk Bia baca, tanaman ini perawatannya tidak merepotkan, tidak perlu disiram setiap hari. Entah kenapa, apakah karena Pasuruan termasuk daerah yang panas, kaktus-kaktus itu mati perlahan satu per satu. Makanya banyak pot yang nganggur. Jadi terbersitlah untuk segera mengeksekusi kaktus-kaktus buatan dari batu ini. Ini salah satu contoh gambar dari video tersebut.

sumber facebook: baudasdicass


Nah, ketika ketidaksabaran itu sudah mulai memuncak (halah), Buk Bia mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Apa sajakah itu?
1.       Batu taman pipih (besar dan kecil)
2.       Batu taman kecil (kerikil)
3.       Batu kolam warna warni(kerikil)
4.       Pot kecil
5.       Cat
6.       Kuas
7.       Pallete, piring atau apa saja untuk wadah cat
8.       Lem batang
9.       Lilin
·         Catatan: kalau sudah punya lem tembak, nggak perlu pakai lilin, ya!


Dari kesemua bahan tersebut, apakah Buk Bia sampai seserius itu membeli semuanya? Oh ya tentu tidak, dong. Semua itu serba kebetulan sudah ada di rumah yang kebanyakan adalah mainannya Bi. Hahaha. Buk Bia hanya perlu minta ke tetangga untuk batu taman yang besar karena memang di rumah adanya batu taman pipih yang kecil.

Oke, sekarang lanjut ke step by step-nya, ya?
1.       Cuci bersih semua batu taman pipih kemudian keringkan.
2.       Siapkan cat. Untuk cat, bisa memakai cat air juga dan tidak perlu ditambah air agar hasil warnanya nanti bisa kuat. Buk Bia sendiri memakai cat yang hanya terdiri dari 3 warna dasar. Kalau ingin warna lain, ketiga warna dasar tersebut bisa dicampur saja. Misalnya, biru dan kuning, biru dan merah, dll.
3.       Mulailah mengecat batu pipih di salah satu sisi terlebih dahulu dan biarkan kering. Jika sudah kering, lanjutkan mengecat sisi yang lain
4.       Siapkan pot kemudian isi dengan batu taman kecil.
5.    Ketika dua sisi batu sudah kering, mulailah melukis pola bebas agar tampak seperti kaktus sungguhan.
6.       Rekatkan batu kolam warna warni pada ujung batu pipih menggunakan lem tembak. Jumlah batu kolam yang akan direkatkan sesuai selera saja, kok.
7.       Tata batu-batu pipih di atas pot yang sudah penuh dengan batu taman kecil tadi. Pastikan batu-batu pipih bisa berdiri dengan kokoh. Lagi, jumlah batu pipih yang akan ditata di atas pot juga menyesuaikan selera saja.
8.       Kaktus dari batu sudah siap untuk mempercantik rumah.



    Gampang banget, kan? Semua orang pasti bisa membuatnya, yang membedakan hanyalah tingkat kreativitas, ketelatenan dan sejauh apa dia menyukai ber-DIY. Selamat mencoba, ya, teman-teman. Pada tulisan yang lain nanti, Buk Bia juga akan berbagi tentang hasil kreasi tangan apa saja yang sudah berhasil  dikerjakan. Semoga menginspirasi untuk berkreasi.




Monday, 30 July 2018

Hebohnya Tantrum

Para mamah muda alias mahmud yang update tentang ilmu parenting, pasti tahu apa itu tantrum. Penjelasan gampangnya, tantrum itu kondisi dimana balita kita nangis kejer, meraung-meraung, teriak-teriak dan semacamnya. Semua itu terjadi karena balita kita belum tahu atau belum bisa mengungkapan secara verbal emosi yang dialaminya. Dia lagi marah kah, lagi jengkel kah, lagi sakit kah. Jadi ya jalan pintasnya, mereka hanya bisa nangis jejeritan gitu deh.

Tantrum ini pun, pasti ada solusinya juga. Bagaimana menghadapi anak yang sedang tantrum? Inilah yang kali ini ingin saya bagi melalui tulisan. Berdasarkan pengalaman keseharian saya aja sebagai ibu yang punya balita.

Putri kecil saya ini, Sabia; saya memanggilnya Bi; bisa tantrum karena hal sepele. Sepertinya kebanyakan anak kecil memang suka rewel karena masalah kecil, ya? Eh tapi yang perlu diingat, mungkin bagi kita itu perkara kecil, namun tidak buat mereka. Mereka sejatinya juga stres berat karena belum bisa bilang uneg-uneg yang dirasakannya. Oke, lanjut ya tentang tantrumnya Bi. Ini baru terjadi dua minggu lalu.

Jadi, hampir setiapsore ada kereta kelinci yang lewat didepan rumah. Awalnya Bi saya biarkan naik kereta setiap hari. Toh cuma dua ribu rupiah saja, pikir saya. Eh, lama-lama ditegur sama suami.
“Bun, dua ribu setiap hari dalam sebulan itu lumayan juga, lho. Bisa buat beli telur.”
Wah, benar juga ya.Hahaha. Akhirnya saya memulai kesepakatan sama Bi kalau boleh naik kereta, tapi dua hari sekali. Ketika dia tanya kenapa, ya saya jelaskan kalau uangnya gak cuma buat naik kereta aja. Buat beli susunya, jajannya, dll. Dia paham dan ini juga sebenarnya mengajarkannya untuk sabar dan menahan hawa nafsunya. Halah. Hahaha. Bahwa, gak semua hal yang kita inginkan harus dinikmati setiap hari.

Tapi ya namanya bocah. Sore itu dia sudah tahu bahwa tidak waktunya untuk naik kereta. Nah, begitu kereta lewat, dia mulai merengek minta naik. Saya tetap menggeleng. Level merengeknya makin naik dan berakhir dengan menangis histeris. Tantrum. Disitulah saya merasa sungguh stres. Lha gimana enggak, sudah jam setengah lima sore, kami serumah belum mandi, masakan untuk berbuka puasa juga belum beres, ditambah aksi dramanya Bi. Saya ingin meledak juga. Okelah, ini yang gampang-gampang susah untuk menerapkan apa yang sudah saya pelajari tentang menghadapi anak tantrum.

·        Tetap tenang dan gak ikut emosi
Bagian ini susah banget. Bi soalnya kalau tantrum agak gak jelas. Hahaha. Kalau saya memalingkan muka, dia makin tinggi teriaknya dan meminta saya untuk melihatnya menangis. Saya cuma bilang,
“Ibuk gak mau liat anak yang nangis. Kalau Bia sudah bisa diam, bilang Ibuk, ya.”
Walaupun sampai setengah jam, ya saya biarkan sampai dia berhenti menangis.

·        Mengusap dada dan punggung
Biasanya, kalau nangisnya mulai mereda, Bi saya pangku sambil saya usap atau tepuk-tepuk halus dan punggungnya agar tenang. Ampuh sih, karena memang sebenarnya (menurut saya) anak tantrum itu merasa nyaman dan aman kalau dipeluk, semarah apapun dia.

·        Komunikasi, cari masalahnya
“Sudah nangisnya? Masih mau marah lagi, gak? Ibuk tunggu. Gak papa, lanjutkan dulu aja,”
Kalau dia mengangguk, berarti memang sudah tenang. Waktunya ngobrol. Biasanya, kami saling berhadapan dan Bi tetap dalam pangkuan.
“Bia kenapa kok nangis? Marah sama Ibuk karena gak boleh naik kereta?”
Dia mengangguk.
“Kan Bia sudah tahu kalau hari gak waktunya naik kereta karena kemarin sudah naik, kan? Iya, kan?”
Dia mengangguk lagi.
“Ya sudah, Ibuk minta maaf ya karena gak ngebolehin Bia naik kereta. Tapi besok lagi, kalau memang gak waktunya naik kereta, gak boleh rewel lho ya,”
Lagi, anggukan terakhirnya. Saya jabat tangan mungilnya, menciumnya dan memeluknya.
“Bia tadi juga marah-marah ke Ibuk, kan? Teriak-teriak juga. Terus gimana?”
Agak lama, dengan suara bergetar dan walaupun gak jelas, tapi saya tahu apa yang dia katakan.
“Maaf, sudah marah-marah. Sudah teriak-teriak.”
Dia menjabat dan mencium tangan saya, kemudian kami saling kecup bibir dan berpelukan.

Heuft. Lama ya prosesnya menyelesaikan tantrum? Ya begitulah. Tinggal kita mau bersabar dan berusaha atau tidak. Dengan adanya anaklah, kita bisa belajar hal baru yang kebanyakan justru semakin mendewasakan kita sebagai orang tua.


Saturday, 28 July 2018

Ayah-Bunda, Jangan Lupa tuk Penuhi Hak-Hakku, Ya?



Halo, ketemu lagi dengan Buk Bia. Tulisan ini merupakan lanjutan dari yang sebelumnya, ya, yaitu tentang 10 hak anak. Sekali lagi, kesepuluh hak ini adalah hanya pandangan dan pengalaman pribadi dari keluarga kecil saya. Mari langsung dibaca saja 5 hak yang terakhir, ya!

6.       Hak untuk mendapatkan makanan
Alhamdulillah, dengan perjuangan yang penuh tumpah darah sejak masa melahirkan, saya berhasil menyusui sampai Sabia berusia sekitar 2 tahun lebih 3 bulan. Awal menyusui yang berat karena ASI tidak keluar cukup banyak, sampai harus menyusui dengan satu payudara saja sampai masa menyapih selesai, dapat saya lalui dengan rasa bangga. Perjuangan yang sebernarnya baru dimulai ketika memasuki masa MPASI. Sabia sangat lahap dengan menu rumahan sampai usia satu tahun. Setelah itu, ya ampuunnn! Sampai sekarang, dia termasuk anak yang tidak makan 3 kali/hari dengan rutin. Variasi menu sudah saya upayakan, tapi akhirnya saya memilih mengibarkan bendera putih. Kenapa? Saya menyadari, mungkin Sabia seperti ibunya dulu, yang picky eater sampai remaja. Tetap ada yang harus disyukuri karena Sabia termasuk pecinta buah. Melon satu buah bisa habis dalam waktu dua hari saja! Salak seperempat kilo juga langsung ludes sekali makan. Saya juga tidak membuatnya kecanduan susu ketika dia susah makan karena  itu tadi, dia lebih suka makan buah daripada makan nasi.

7.       Hak untuk mendapatkan akses kesehatan
Cukup sekali saja Sabia merasakan kamar rumah sakit. Tetap saja, ya, saya nggak tega. Waktu itu demam beberapa hari, naik turun. Menjelang hari ketujuh, ada bintik-bintik merah di tangan dan kakinya. Kami langsung membawanya ke dokter dan disarankan untuk cek laboratorium. Feeling saya sudah nggak enak. Dan benar saja, hasil lab menunjukkan bahwa Sabia harus dirawat. Ayahnya yang menemani ketika Sabia dipasang infus. Lha saya kemana? Ngumpet, dong! Hahaha. Sekitar empat hari tiga malam,kami; ditemani akung dan uti-nya dari Madiun; menghabiskan waktu di rumah sakit. Alhamdulillah Sabia sama sekali tidak rewel, tidur pun nyenyak. Tetap susah makan, tapi menghabiskan jeruk tiga buah sekali makan. Selalulah sehat, ya, Nak.

8.       Hak untuk mendapatkan rekreasi
Nah, ini yang asyik. Kami sekeluarga suka banget mbolang, entah cuma muter-muter komplek perumahan untuk lihat sawah atau nongkrong di warung kopi bertiga. Ayahnya tipe yang nggak betah kalau di rumah saja, apalagi Ahad. Selama menetap di Pasuruan, perjalanan terjauh kita adalah ke Gunung Bromo, naik motor pula. Lha ternyata dekat banget, lho. Nggak sampai satu setengah jam, sudah bisa lihat Bromo. Ketika teman-teman dan kolega tahu tentang cerita kami manuju ke Bromo dengan naik motor, mereka kaget. Wow banget gitu kayaknya. Kok ya bisa-bisanya bawa balita naik motor, ke Bromo pula. Hahaha. Bagaimana dengan Sabia? Dia baik-baik saja, kok. Menikmati hawa dinginnya gunung sambil ngemil jeruk. Hihihi. Kami juga berpetualang bersama melewati lautan badai pasir menuju kaki Bromo. Poto-poto sebentar, sudah, deh. Kami langsung kembali ke Pasuruan. Jadi, mau rekreasi kemana lagi, Ndhuk?

9.       Hak untuk mendapatkan kesamaan
Aih, bahasanya! Apa pula maksudnya nomor sembilan ini? Hmm … intinya, semua poin di atas berhubungan dengan hal ini. Tidak membedakan RAS, kaya/miskin, anak yang normal atau berkebutuhan khusus, semuanya berhak mendapat kesamaan dalam hal pendidikan, kesehatan, perlindungan, dll. Apa yang bisa saya ceritakan tentang Sabia terkait bab kesamaan ini, ya? So far, sih, kami belum pernah mengalami diskriminasi tentang apa pun yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani dan rohaninya Sabia. Semoga tidak akan pernah mendapat perlakuan yang berbeda, lah.

10.   Hak untuk berperan dalam pembangunan
Waduh! Poin terakhir ini berat juga. Setelah saya bertanya ke mesin pencari (lagi), secara sederhana dapat dijelaskan bahwa sejak dini pun, kita bisa mulai mengenalkan pengetahuan tentang menjadi warga negara yang baik. Ini soalnya juga bisa menjadi bekal agar kelak anak kita ikut berperan dalam pembangunan. Ternyata, membuang sampah pada tempatnya adalah salah satu contohnya. Saya sudah mengajarkan sejak Sabia kecil tentang hal ini, malah tergolong galak juga. Hehehe. Ketika bepergian kami juga menyiapkan plastik di mobil sebagai wadah sampah. Misalkan pas naik motor dan Sabia  sedang makan es krim, bungkus es krim-nya dibuang dimana, dong? Ya berhenti cari tempat sampah, lah, atau kalau perginya hanya sebentar, ya bungkus es krim-nya dibawa pulang aja, dibuang di rumah. Begitu, ya?

Oke, demikianlah akhir dari catatan Buk Bia tentang 10 hak anak. Semoga bisa membantu Ayah-Bunda sekalian dalam menunaikan hak-hak buah hati tercinta. Saya, sih, masih merasa belum maksimal di poin terakhir. Bagaimana dengan Ayah-Bunda? Selamat memenuhi hak-hak ananda, ya! Sampai jumpa dan terima kasih.


Wednesday, 25 July 2018

Ayah-Bunda, Tolong Penuhilah Hak-hakku


Ternyata, sudah waktunya memperingati Hari Anak Nasional lagi, ya? Hmm … Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman gambar dari grup percakapan, yang isinya tentang 10 hak anak. Nah, lho! Setelah dibaca satu per satu, mungkinkah selama ini masih ada yang terlewat ketika saya dan suami membersamai Sabia? Tulisan ini murni hanya sebuah refleksi pribadi dari keluarga kecil kami yang masih terus berproses untuk menuju kebaikan bersama-sama.
Jadi, apa sajakah 10 hak anak yang perlu diperhatikan?

1.       Hak untuk bermain
Sejak memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, saya memang ingin fokus bersama anak. Ketika rumah sedang diperbaiki pun, saya sudah meminta izin kepada suami untuk mendapatkan spot  sendiri sebagai tempat bermainnya Sabia. Alhamdulillah, semuanya sesuai dengan bayangan saya selama ini. Sabia pun mendapat pojok bermainnya sendiri, dimana terdapat koleksi buku dan mainannya serta dinding yang saya cat sendiri dengan cat papan tulis agar bisa digambari sepuasnya menggunakan kapur warna-warni. Ada juga dinding yang khusus untuk memajang aneka hasil karya bermainnya bersama saya. Ya, bagi saya harus ada waktu tersendiri untuk bermain bersamanya. Biasanya, sih, pagi dan malam hari.

2.       Hak untuk mendapatkan pendidikan
Sabia akan memasuki usia 4 tahun pada bulan Agustus nanti. Ketika kebanyakan teman bermainnya sudah mulai masuk PAUD, bahkan TK di usia 4, saya masih ingin membuatnya merasa nyaman di rumah saja, bermain dan belajar bersama ibunya. Bukankah yang wajib adalah belajar dan bukan sekolah? Jadi, pendidikan pun juga bisa diajarkan oleh ibunya. Sabia belajar tentang adab, warna,  berhitung, huruf hijaiyah, menghapal surat-surat pendek, kesenian, dll. Saya kira, sudah banyak yang kami lakukan ketika bermain bersama. Bermain sambil belajar dan bermain untuk belajar.

3.       Hak untuk mendapatkan perlindungan
Wih, berat juga, nih pembahasannya. Menurut artikel yang saya baca, hal ini berkaitan dengan melindungi anak dari kekerasan rumah tangga, dari pelecehan seksual, tindak kriminal, dari pekerjaan layaknya orang dewasa, dll. Harus terus berbenah diri, nih, jika amarah saya yang mudah terpicu oleh tantrumnya Sabia, membuat Sabia tidak mendapatkan perlindungan yang layak. Jangan-jangan mudah marah ke anak itu termasuk kekerasan dalam rumah tangga? Bisa saja,kan, anak jadi trauma dengan orangtuanya sendiri karena mereka menjadi sosok yang mudah marah dan bukannya memberikan kenyamanan?  Duh! Naudzubillah min dzalik.

4.       Hak untuk mendapat nama (identitas)
Sudah pasti, setiap nama yang disematkan orangtua kepada anaknya mengandung doa. Saya masih mencoba mengingat makna dari nama Sabia Anindita Rizki. Lupa, euy! Kami dulu memang ingin memberi nama yang tidak terlalu panjang dan agar terkesan sederhana. ‘Sabia’ bermakna memesona, ‘Anindita’ berarti sempurna dan ‘Rizki’ adalah rezeki. Selain itu, karena nama saya dan suami mengandung ‘Rizki’, jadi tak hanya Sabia saja, kelak jika hadir adiknya pun, juga harus menyandang ‘Rizki’. Secara keseluruhan, beginilah doa yang kami sematkan di sebuah nama Sabia Anindita Rizki.
Ndhuk,jadilah perempuan yang memesona dan sempurna ilmu serta akhlaknya dan semoga rezekimu selalu berkah karena kau mengamalkan keduanya dengan baik. 

5.       Hak untuk medapatkan status kebangsaan
Yang in sudah jelas, dong, ya. Satu bangsaku, bangsa Indonesia. Qodarullah, saya mendapatkan jodoh orang Indonesia, suku Jawa. Kegalauan mugkin akan melanda jika ayahnya Sabia adalah orang Korea. Apakah ketika di usia 17 tahun nanti Sabia akan memilih Indonesia atau Korea sebagai status warga negaranya? Pilihan lain, saya yang akan ikut kewarganegaraan suami. Sudah, abaikan tulisan bagian ini, ya. Hahaha.
Pada akhirnya, semoga dengan rangkaian prestasimu kelak, engkau juga bisa mengharumkan nama Indonesia di belahan bumi Allah yang luas ini, ya, Nak. Aamiin.

Bagaimana, Ayah-Bunda? Setelah membaca tulisan ini, apa saja refleksi keluarga Ayah-Bunda tentang hak-hak anak? Masih adakah hak-hak mereka yang belum tertunaikan? Selamat berdiskusi dengan pasangan dan sampai ketemu di bagian ke 2 nanti, ya. Terima kasih. J


Sunday, 22 July 2018

Cepat Tepat Sarapan Sehat


Para emak-emak ini pasti kesibukan di pagi hari dimulai dari dapur, kan? Waktu yang sempit, sementara yang diurus juga banyak, kadang malah gak sempat sarapan. Padahal jadi emak harus setrong lahir batin karena pekerjaan yang menggunung sudah menunggu selama24 jam non-stop. Jadi gimana, nih, biar bisa memaksimalkan waktu yang singkat di pagi hari untuk menyiapkan sarapan yang cepat dan tetap sehat? Yuk, ah, Buk Bia mau berbagi tips disini.

Cek kulkas. Apakah persediaan cabai aman? Bagi penyuka pedas, sambal wajib hukumnya, kan,ya? Pun dengan keluarga Buk Bi ketika sambal jadi menu utama. Jenis sambalnya juga suka-sukanya mood  di pagi itu. Sambal bawang atau sambal tomat mentah, atau kalau lagi rajin dan niat, cabai dan kawan-kawannya digoreng dulu. Oh, ya, gak pernah ketinggalan terasinya juga. Alhamdulillahnya, pak suami selalu siap sedia untuk jadi juru uleg.

Sambal sudah beres. Selanjutnya, yang harus ada di setiap sarapan adalah lalapan. Terserah, bisa apa saja. Pokoknya yang hijau-hijau. Sawi, mentimun, bayam, kangkung, kacang panjang, dll. Mentimun dan kacang panjang bisa langsung dikonsumsi dulu setelah dicuci. Sedangkan yang dedaunan, bagi yang pecinta makanan sehat banget alias lagi diet, bayam dkk biasanya juga langsung hap! Buk Bi sendiri, sih, lebih suka direbus sebentar biar gak terasa mentah-mentah amat gitu. Ngrebusnya juga 5-10 detik aja, supaya vitaminnya tetap terjaga khasiatnya. Halah!

Sambal oke, lalapan siap. Terakhir yang harus diolah ya lauknya, dong. Bisa tempe, tahu, ayam goreng atau telur dadar. Untuk olahan ayam, pastikan dibumbui sampai setengah matang sejak sehari sebelumnya, ya. Cukup memakan banyak waktu kalau ayamnya baru dimasak pagi itu. Jika lauk pilihan pada hari itu sudah matang, tinggal dipenyet sama sambalnya saja. Apalagi jika nasinya juga baru tanak, pasti tambah nikmat. Hei, jangan lupa lalapannya, ya, Mak!

Aneka penyetan di ataslah yang juga selalu Buk Bi siapkan di kotak bekal pak suami. Karena pagi hari sudah dibuka dengan secangkir kopi yang katanya cukup membuat kenyang, jadilah beliau gak pernah sarapan dirumah.

Eh, ada satu lagi menu favoritnya Buk Bi dan suami. Sambal terong. Menu ini bisa bikin kalap dan ambil nasi berkali-kali. Biasanya kalau masak sambal terong, Buk Bi lebih suka terongnya digoreng dulu. Sambalnya pun juga digoreng. Nah, karena sudah penuh dengan minyak, akhirnya lauk yang dipilih adalah telur rebus. Itulah yang jadi acuan Buk Bi selama ini untuk menyiapkan sarapan. Buk Bi dan suami masih belum bisa menghindari aneka gorengan, tapi selalu meminimalisir minyak berlebih pada menu yang dimasak.

Gimana, Mak? Kayaknya, sih, semua langkah diatas gak akan sampai tiga puluh menit sudah selesai bikin sarapannya. Iya, gak? Bisa istirahat ngopi sebentar sebelum melanjutkan tugas domestik yang lain dan menyiapkan tenaga buat masak menu makan siang dan malam. Hihihi.
Begitulah tips sarapan cepat dan sehat ala keluarga Buk Bi. Jadi, jangan lupakan pentingnya sarapan, ya, Mak. Menemani anak main pun juga perlu tenaga ekstra. Kalau gak diawali dengan sarapan, biasanya Buk Bi gampang marah dan akhirnya pengen makan anak sendiri. Hahaha. Semoga tulisannya bermanfaat dan bisa membantu para emak yang sedang belajar dan gak PD masak, tapi juga pengen menyiapkan menu yang cepat dan sehat untuk keluarga tercinta.


Thursday, 7 June 2018

PULANG




source: pixabay.com
Aroma mudik sudah mulai semerbak di setiap sudut kota. Pun, di komplek perumahan saya. Semakin berkurang penghuninya karena satu persatu mulai mengangkat koper mereka menuju kampung halaman masing-masing. Sepertinya memang di Indonesia saja, ya, yang kental dengan nuansa mudik ini?                                                                                                                                                              
Saya dan suami berasal dari kota yang sama, Madiun. Sebelum menikah, suami mencoba peruntungannya untuk mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pasuruan dan diterima. Pasca-menikah, kami menjalani hubungan jarak jauh Pasuruan – Madiun. Suami yang sering ke Madiun tiap akhir pekan kemudian kembali ke Pasuruan pada Senin dini hari. Setelah setahun, saya mulai diboyong ke Pasuruan, kota yang sama sekali tak pernah terlintas untuk saya tinggali. Sejauh ini, yang membuat saya betah berada di sini adalah karena baksonya yang enak dan dekat dengan Surabaya, kota dimana kakak perempuan dan kakak ipar saya menetap. Ketika tidak memungkinkan untuk pulang ke Madiun, mengunjungi kakak-kakak sudah cukup untuk mengobati kerinduan dengan keluarga.

Sebagai pasangan yang bertipe homesick dan merupakan anak bungsu, hidup jauh dari orangtua bisa dikatakan gampang-gampang susah. Terasa mudah ketika di setiap libur lebaran dan libur akhir tahun, kami bisa menghabiskan waktu sepuasnya dikampung halaman. Dibandingkan dengan kakak-kakak kami, saya sekeluarga akan sampai di Madiun pertama kali dan menjadi orang terakhir yang pamit pulang untuk kembali ke perantauan. Sebaliknya, mudik terasa susah ketika ada tanggal merah tertera di kalender dan kebetulan long weekend. Kami lebih memilih untuk tidak pulang karena semuanya terasa berat. Ya berat di ongkos bensin dan berat jiwa raga, capek di jalan. Namun jika kerinduan akan kampung halaman sudah dirasa akut, kami tetap nekat pulang walaupun hanya menghabiskan dua sampai tiga malam saja untuk melepas kangen dengan Bapak-Ibu.

Jarak Madiun - Pasuruan sempat saya keluhkan jauh ketika pertama kali mendapati bahwa calon suami bekerja disana. Kakak lah yang mematahkan kegelisahan tersebut dengan mengatakan bahwa jarak itu dekat, naik bis juga sampai. Selama masih ada kendaraan yang bisa ditempuh, semua terasa dekat. Ya benar juga, sih. Saya jadi kembali teringat salah satu pantangan yang pernah bersemayam di pikiran. Bahwa kelak saya tidak ingin mendapatkan suami yang bekerja diluar Jawa dan kemudian kami harus menghabiskan hidup disana. Sudah tak terbayang beratnya. Ketika Allah sudah mengabulkan itu, kok ya kesannya masih kurang bersyukur saja mendapati Pasuruan sebagai tujuan hidup selanjutnya.

Saya sering takjub dengan perjuangan teman-teman yang setelah menikah diboyong suaminya keluar Jawa. Malah ada yang tinggalnya sampai di pelosok hutan. Jauh dari pusat kota, fasilitas kesehatan dan lainnya. Semuanya sungguh tak mudah. Walupun mungkin dari segi finansial, pemasukan tiap bulannya tergolong besar, tapi di lubuk hati terdalam, siapa yang bisa menyelamnya. Kegelisahan karena hidup jauh dari keluarga besar pasti tak terelakkan. Ada salah seorang sahabat yang tahun ini tidak bisa mudik ke Jawa karena suaminya harus tetap bertugas di Hari Raya. Pilihan terbaiknya adalah tetap pulang ke Jawa selama sepekan lebih di awal Ramadhan lalu. Sahabat yang lain, ada di Jakarta. Setiap tahun juga selalau berburu tiket kereta api jauh-jauh hari untuk mudik ke Jawa.  Berita baik juga datang dari teman-teman yang merantau ke Borneo dan Dumai, Riau. Mereka juga akan pulang ke Jawa lebaran kali ini. Membaca kabar yang mereka tuliskan di media sosial saja sudah membuat saya ikut berbahagia. Betapa kerinduan dan sepi yang selama ini terbungkus oleh kehidupan rantau, sebentar lagi akan mereka lepaskan bersam keluarga tercinta.

Hidup merantau mungkin sulit tapi kita juga pasti menemukan hal baru disana. Tetangga baru, teman-teman baru dan jelas bahwa semuanya akan melahirkan cerita  serta pengalaman baru. Namun, apabila kesempatan dan kondisi memungkinkan, pulanglah walau sejenak. Jikalau keberadaan orangtua membuat kita makin merindu, terkadang pulang memang harus diusahakan dan dipaksakan. Ber-birul walidain-lah, teman-teman.  Selamat mudik.