Monday, 30 July 2018

Hebohnya Tantrum

Para mamah muda alias mahmud yang update tentang ilmu parenting, pasti tahu apa itu tantrum. Penjelasan gampangnya, tantrum itu kondisi dimana balita kita nangis kejer, meraung-meraung, teriak-teriak dan semacamnya. Semua itu terjadi karena balita kita belum tahu atau belum bisa mengungkapan secara verbal emosi yang dialaminya. Dia lagi marah kah, lagi jengkel kah, lagi sakit kah. Jadi ya jalan pintasnya, mereka hanya bisa nangis jejeritan gitu deh.

Tantrum ini pun, pasti ada solusinya juga. Bagaimana menghadapi anak yang sedang tantrum? Inilah yang kali ini ingin saya bagi melalui tulisan. Berdasarkan pengalaman keseharian saya aja sebagai ibu yang punya balita.

Putri kecil saya ini, Sabia; saya memanggilnya Bi; bisa tantrum karena hal sepele. Sepertinya kebanyakan anak kecil memang suka rewel karena masalah kecil, ya? Eh tapi yang perlu diingat, mungkin bagi kita itu perkara kecil, namun tidak buat mereka. Mereka sejatinya juga stres berat karena belum bisa bilang uneg-uneg yang dirasakannya. Oke, lanjut ya tentang tantrumnya Bi. Ini baru terjadi dua minggu lalu.

Jadi, hampir setiapsore ada kereta kelinci yang lewat didepan rumah. Awalnya Bi saya biarkan naik kereta setiap hari. Toh cuma dua ribu rupiah saja, pikir saya. Eh, lama-lama ditegur sama suami.
“Bun, dua ribu setiap hari dalam sebulan itu lumayan juga, lho. Bisa buat beli telur.”
Wah, benar juga ya.Hahaha. Akhirnya saya memulai kesepakatan sama Bi kalau boleh naik kereta, tapi dua hari sekali. Ketika dia tanya kenapa, ya saya jelaskan kalau uangnya gak cuma buat naik kereta aja. Buat beli susunya, jajannya, dll. Dia paham dan ini juga sebenarnya mengajarkannya untuk sabar dan menahan hawa nafsunya. Halah. Hahaha. Bahwa, gak semua hal yang kita inginkan harus dinikmati setiap hari.

Tapi ya namanya bocah. Sore itu dia sudah tahu bahwa tidak waktunya untuk naik kereta. Nah, begitu kereta lewat, dia mulai merengek minta naik. Saya tetap menggeleng. Level merengeknya makin naik dan berakhir dengan menangis histeris. Tantrum. Disitulah saya merasa sungguh stres. Lha gimana enggak, sudah jam setengah lima sore, kami serumah belum mandi, masakan untuk berbuka puasa juga belum beres, ditambah aksi dramanya Bi. Saya ingin meledak juga. Okelah, ini yang gampang-gampang susah untuk menerapkan apa yang sudah saya pelajari tentang menghadapi anak tantrum.

·        Tetap tenang dan gak ikut emosi
Bagian ini susah banget. Bi soalnya kalau tantrum agak gak jelas. Hahaha. Kalau saya memalingkan muka, dia makin tinggi teriaknya dan meminta saya untuk melihatnya menangis. Saya cuma bilang,
“Ibuk gak mau liat anak yang nangis. Kalau Bia sudah bisa diam, bilang Ibuk, ya.”
Walaupun sampai setengah jam, ya saya biarkan sampai dia berhenti menangis.

·        Mengusap dada dan punggung
Biasanya, kalau nangisnya mulai mereda, Bi saya pangku sambil saya usap atau tepuk-tepuk halus dan punggungnya agar tenang. Ampuh sih, karena memang sebenarnya (menurut saya) anak tantrum itu merasa nyaman dan aman kalau dipeluk, semarah apapun dia.

·        Komunikasi, cari masalahnya
“Sudah nangisnya? Masih mau marah lagi, gak? Ibuk tunggu. Gak papa, lanjutkan dulu aja,”
Kalau dia mengangguk, berarti memang sudah tenang. Waktunya ngobrol. Biasanya, kami saling berhadapan dan Bi tetap dalam pangkuan.
“Bia kenapa kok nangis? Marah sama Ibuk karena gak boleh naik kereta?”
Dia mengangguk.
“Kan Bia sudah tahu kalau hari gak waktunya naik kereta karena kemarin sudah naik, kan? Iya, kan?”
Dia mengangguk lagi.
“Ya sudah, Ibuk minta maaf ya karena gak ngebolehin Bia naik kereta. Tapi besok lagi, kalau memang gak waktunya naik kereta, gak boleh rewel lho ya,”
Lagi, anggukan terakhirnya. Saya jabat tangan mungilnya, menciumnya dan memeluknya.
“Bia tadi juga marah-marah ke Ibuk, kan? Teriak-teriak juga. Terus gimana?”
Agak lama, dengan suara bergetar dan walaupun gak jelas, tapi saya tahu apa yang dia katakan.
“Maaf, sudah marah-marah. Sudah teriak-teriak.”
Dia menjabat dan mencium tangan saya, kemudian kami saling kecup bibir dan berpelukan.

Heuft. Lama ya prosesnya menyelesaikan tantrum? Ya begitulah. Tinggal kita mau bersabar dan berusaha atau tidak. Dengan adanya anaklah, kita bisa belajar hal baru yang kebanyakan justru semakin mendewasakan kita sebagai orang tua.


Saturday, 28 July 2018

Ayah-Bunda, Jangan Lupa tuk Penuhi Hak-Hakku, Ya?



Halo, ketemu lagi dengan Buk Bia. Tulisan ini merupakan lanjutan dari yang sebelumnya, ya, yaitu tentang 10 hak anak. Sekali lagi, kesepuluh hak ini adalah hanya pandangan dan pengalaman pribadi dari keluarga kecil saya. Mari langsung dibaca saja 5 hak yang terakhir, ya!

6.       Hak untuk mendapatkan makanan
Alhamdulillah, dengan perjuangan yang penuh tumpah darah sejak masa melahirkan, saya berhasil menyusui sampai Sabia berusia sekitar 2 tahun lebih 3 bulan. Awal menyusui yang berat karena ASI tidak keluar cukup banyak, sampai harus menyusui dengan satu payudara saja sampai masa menyapih selesai, dapat saya lalui dengan rasa bangga. Perjuangan yang sebernarnya baru dimulai ketika memasuki masa MPASI. Sabia sangat lahap dengan menu rumahan sampai usia satu tahun. Setelah itu, ya ampuunnn! Sampai sekarang, dia termasuk anak yang tidak makan 3 kali/hari dengan rutin. Variasi menu sudah saya upayakan, tapi akhirnya saya memilih mengibarkan bendera putih. Kenapa? Saya menyadari, mungkin Sabia seperti ibunya dulu, yang picky eater sampai remaja. Tetap ada yang harus disyukuri karena Sabia termasuk pecinta buah. Melon satu buah bisa habis dalam waktu dua hari saja! Salak seperempat kilo juga langsung ludes sekali makan. Saya juga tidak membuatnya kecanduan susu ketika dia susah makan karena  itu tadi, dia lebih suka makan buah daripada makan nasi.

7.       Hak untuk mendapatkan akses kesehatan
Cukup sekali saja Sabia merasakan kamar rumah sakit. Tetap saja, ya, saya nggak tega. Waktu itu demam beberapa hari, naik turun. Menjelang hari ketujuh, ada bintik-bintik merah di tangan dan kakinya. Kami langsung membawanya ke dokter dan disarankan untuk cek laboratorium. Feeling saya sudah nggak enak. Dan benar saja, hasil lab menunjukkan bahwa Sabia harus dirawat. Ayahnya yang menemani ketika Sabia dipasang infus. Lha saya kemana? Ngumpet, dong! Hahaha. Sekitar empat hari tiga malam,kami; ditemani akung dan uti-nya dari Madiun; menghabiskan waktu di rumah sakit. Alhamdulillah Sabia sama sekali tidak rewel, tidur pun nyenyak. Tetap susah makan, tapi menghabiskan jeruk tiga buah sekali makan. Selalulah sehat, ya, Nak.

8.       Hak untuk mendapatkan rekreasi
Nah, ini yang asyik. Kami sekeluarga suka banget mbolang, entah cuma muter-muter komplek perumahan untuk lihat sawah atau nongkrong di warung kopi bertiga. Ayahnya tipe yang nggak betah kalau di rumah saja, apalagi Ahad. Selama menetap di Pasuruan, perjalanan terjauh kita adalah ke Gunung Bromo, naik motor pula. Lha ternyata dekat banget, lho. Nggak sampai satu setengah jam, sudah bisa lihat Bromo. Ketika teman-teman dan kolega tahu tentang cerita kami manuju ke Bromo dengan naik motor, mereka kaget. Wow banget gitu kayaknya. Kok ya bisa-bisanya bawa balita naik motor, ke Bromo pula. Hahaha. Bagaimana dengan Sabia? Dia baik-baik saja, kok. Menikmati hawa dinginnya gunung sambil ngemil jeruk. Hihihi. Kami juga berpetualang bersama melewati lautan badai pasir menuju kaki Bromo. Poto-poto sebentar, sudah, deh. Kami langsung kembali ke Pasuruan. Jadi, mau rekreasi kemana lagi, Ndhuk?

9.       Hak untuk mendapatkan kesamaan
Aih, bahasanya! Apa pula maksudnya nomor sembilan ini? Hmm … intinya, semua poin di atas berhubungan dengan hal ini. Tidak membedakan RAS, kaya/miskin, anak yang normal atau berkebutuhan khusus, semuanya berhak mendapat kesamaan dalam hal pendidikan, kesehatan, perlindungan, dll. Apa yang bisa saya ceritakan tentang Sabia terkait bab kesamaan ini, ya? So far, sih, kami belum pernah mengalami diskriminasi tentang apa pun yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani dan rohaninya Sabia. Semoga tidak akan pernah mendapat perlakuan yang berbeda, lah.

10.   Hak untuk berperan dalam pembangunan
Waduh! Poin terakhir ini berat juga. Setelah saya bertanya ke mesin pencari (lagi), secara sederhana dapat dijelaskan bahwa sejak dini pun, kita bisa mulai mengenalkan pengetahuan tentang menjadi warga negara yang baik. Ini soalnya juga bisa menjadi bekal agar kelak anak kita ikut berperan dalam pembangunan. Ternyata, membuang sampah pada tempatnya adalah salah satu contohnya. Saya sudah mengajarkan sejak Sabia kecil tentang hal ini, malah tergolong galak juga. Hehehe. Ketika bepergian kami juga menyiapkan plastik di mobil sebagai wadah sampah. Misalkan pas naik motor dan Sabia  sedang makan es krim, bungkus es krim-nya dibuang dimana, dong? Ya berhenti cari tempat sampah, lah, atau kalau perginya hanya sebentar, ya bungkus es krim-nya dibawa pulang aja, dibuang di rumah. Begitu, ya?

Oke, demikianlah akhir dari catatan Buk Bia tentang 10 hak anak. Semoga bisa membantu Ayah-Bunda sekalian dalam menunaikan hak-hak buah hati tercinta. Saya, sih, masih merasa belum maksimal di poin terakhir. Bagaimana dengan Ayah-Bunda? Selamat memenuhi hak-hak ananda, ya! Sampai jumpa dan terima kasih.


Wednesday, 25 July 2018

Ayah-Bunda, Tolong Penuhilah Hak-hakku


Ternyata, sudah waktunya memperingati Hari Anak Nasional lagi, ya? Hmm … Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman gambar dari grup percakapan, yang isinya tentang 10 hak anak. Nah, lho! Setelah dibaca satu per satu, mungkinkah selama ini masih ada yang terlewat ketika saya dan suami membersamai Sabia? Tulisan ini murni hanya sebuah refleksi pribadi dari keluarga kecil kami yang masih terus berproses untuk menuju kebaikan bersama-sama.
Jadi, apa sajakah 10 hak anak yang perlu diperhatikan?

1.       Hak untuk bermain
Sejak memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, saya memang ingin fokus bersama anak. Ketika rumah sedang diperbaiki pun, saya sudah meminta izin kepada suami untuk mendapatkan spot  sendiri sebagai tempat bermainnya Sabia. Alhamdulillah, semuanya sesuai dengan bayangan saya selama ini. Sabia pun mendapat pojok bermainnya sendiri, dimana terdapat koleksi buku dan mainannya serta dinding yang saya cat sendiri dengan cat papan tulis agar bisa digambari sepuasnya menggunakan kapur warna-warni. Ada juga dinding yang khusus untuk memajang aneka hasil karya bermainnya bersama saya. Ya, bagi saya harus ada waktu tersendiri untuk bermain bersamanya. Biasanya, sih, pagi dan malam hari.

2.       Hak untuk mendapatkan pendidikan
Sabia akan memasuki usia 4 tahun pada bulan Agustus nanti. Ketika kebanyakan teman bermainnya sudah mulai masuk PAUD, bahkan TK di usia 4, saya masih ingin membuatnya merasa nyaman di rumah saja, bermain dan belajar bersama ibunya. Bukankah yang wajib adalah belajar dan bukan sekolah? Jadi, pendidikan pun juga bisa diajarkan oleh ibunya. Sabia belajar tentang adab, warna,  berhitung, huruf hijaiyah, menghapal surat-surat pendek, kesenian, dll. Saya kira, sudah banyak yang kami lakukan ketika bermain bersama. Bermain sambil belajar dan bermain untuk belajar.

3.       Hak untuk mendapatkan perlindungan
Wih, berat juga, nih pembahasannya. Menurut artikel yang saya baca, hal ini berkaitan dengan melindungi anak dari kekerasan rumah tangga, dari pelecehan seksual, tindak kriminal, dari pekerjaan layaknya orang dewasa, dll. Harus terus berbenah diri, nih, jika amarah saya yang mudah terpicu oleh tantrumnya Sabia, membuat Sabia tidak mendapatkan perlindungan yang layak. Jangan-jangan mudah marah ke anak itu termasuk kekerasan dalam rumah tangga? Bisa saja,kan, anak jadi trauma dengan orangtuanya sendiri karena mereka menjadi sosok yang mudah marah dan bukannya memberikan kenyamanan?  Duh! Naudzubillah min dzalik.

4.       Hak untuk mendapat nama (identitas)
Sudah pasti, setiap nama yang disematkan orangtua kepada anaknya mengandung doa. Saya masih mencoba mengingat makna dari nama Sabia Anindita Rizki. Lupa, euy! Kami dulu memang ingin memberi nama yang tidak terlalu panjang dan agar terkesan sederhana. ‘Sabia’ bermakna memesona, ‘Anindita’ berarti sempurna dan ‘Rizki’ adalah rezeki. Selain itu, karena nama saya dan suami mengandung ‘Rizki’, jadi tak hanya Sabia saja, kelak jika hadir adiknya pun, juga harus menyandang ‘Rizki’. Secara keseluruhan, beginilah doa yang kami sematkan di sebuah nama Sabia Anindita Rizki.
Ndhuk,jadilah perempuan yang memesona dan sempurna ilmu serta akhlaknya dan semoga rezekimu selalu berkah karena kau mengamalkan keduanya dengan baik. 

5.       Hak untuk medapatkan status kebangsaan
Yang in sudah jelas, dong, ya. Satu bangsaku, bangsa Indonesia. Qodarullah, saya mendapatkan jodoh orang Indonesia, suku Jawa. Kegalauan mugkin akan melanda jika ayahnya Sabia adalah orang Korea. Apakah ketika di usia 17 tahun nanti Sabia akan memilih Indonesia atau Korea sebagai status warga negaranya? Pilihan lain, saya yang akan ikut kewarganegaraan suami. Sudah, abaikan tulisan bagian ini, ya. Hahaha.
Pada akhirnya, semoga dengan rangkaian prestasimu kelak, engkau juga bisa mengharumkan nama Indonesia di belahan bumi Allah yang luas ini, ya, Nak. Aamiin.

Bagaimana, Ayah-Bunda? Setelah membaca tulisan ini, apa saja refleksi keluarga Ayah-Bunda tentang hak-hak anak? Masih adakah hak-hak mereka yang belum tertunaikan? Selamat berdiskusi dengan pasangan dan sampai ketemu di bagian ke 2 nanti, ya. Terima kasih. J


Sunday, 22 July 2018

Cepat Tepat Sarapan Sehat


Para emak-emak ini pasti kesibukan di pagi hari dimulai dari dapur, kan? Waktu yang sempit, sementara yang diurus juga banyak, kadang malah gak sempat sarapan. Padahal jadi emak harus setrong lahir batin karena pekerjaan yang menggunung sudah menunggu selama24 jam non-stop. Jadi gimana, nih, biar bisa memaksimalkan waktu yang singkat di pagi hari untuk menyiapkan sarapan yang cepat dan tetap sehat? Yuk, ah, Buk Bia mau berbagi tips disini.

Cek kulkas. Apakah persediaan cabai aman? Bagi penyuka pedas, sambal wajib hukumnya, kan,ya? Pun dengan keluarga Buk Bi ketika sambal jadi menu utama. Jenis sambalnya juga suka-sukanya mood  di pagi itu. Sambal bawang atau sambal tomat mentah, atau kalau lagi rajin dan niat, cabai dan kawan-kawannya digoreng dulu. Oh, ya, gak pernah ketinggalan terasinya juga. Alhamdulillahnya, pak suami selalu siap sedia untuk jadi juru uleg.

Sambal sudah beres. Selanjutnya, yang harus ada di setiap sarapan adalah lalapan. Terserah, bisa apa saja. Pokoknya yang hijau-hijau. Sawi, mentimun, bayam, kangkung, kacang panjang, dll. Mentimun dan kacang panjang bisa langsung dikonsumsi dulu setelah dicuci. Sedangkan yang dedaunan, bagi yang pecinta makanan sehat banget alias lagi diet, bayam dkk biasanya juga langsung hap! Buk Bi sendiri, sih, lebih suka direbus sebentar biar gak terasa mentah-mentah amat gitu. Ngrebusnya juga 5-10 detik aja, supaya vitaminnya tetap terjaga khasiatnya. Halah!

Sambal oke, lalapan siap. Terakhir yang harus diolah ya lauknya, dong. Bisa tempe, tahu, ayam goreng atau telur dadar. Untuk olahan ayam, pastikan dibumbui sampai setengah matang sejak sehari sebelumnya, ya. Cukup memakan banyak waktu kalau ayamnya baru dimasak pagi itu. Jika lauk pilihan pada hari itu sudah matang, tinggal dipenyet sama sambalnya saja. Apalagi jika nasinya juga baru tanak, pasti tambah nikmat. Hei, jangan lupa lalapannya, ya, Mak!

Aneka penyetan di ataslah yang juga selalu Buk Bi siapkan di kotak bekal pak suami. Karena pagi hari sudah dibuka dengan secangkir kopi yang katanya cukup membuat kenyang, jadilah beliau gak pernah sarapan dirumah.

Eh, ada satu lagi menu favoritnya Buk Bi dan suami. Sambal terong. Menu ini bisa bikin kalap dan ambil nasi berkali-kali. Biasanya kalau masak sambal terong, Buk Bi lebih suka terongnya digoreng dulu. Sambalnya pun juga digoreng. Nah, karena sudah penuh dengan minyak, akhirnya lauk yang dipilih adalah telur rebus. Itulah yang jadi acuan Buk Bi selama ini untuk menyiapkan sarapan. Buk Bi dan suami masih belum bisa menghindari aneka gorengan, tapi selalu meminimalisir minyak berlebih pada menu yang dimasak.

Gimana, Mak? Kayaknya, sih, semua langkah diatas gak akan sampai tiga puluh menit sudah selesai bikin sarapannya. Iya, gak? Bisa istirahat ngopi sebentar sebelum melanjutkan tugas domestik yang lain dan menyiapkan tenaga buat masak menu makan siang dan malam. Hihihi.
Begitulah tips sarapan cepat dan sehat ala keluarga Buk Bi. Jadi, jangan lupakan pentingnya sarapan, ya, Mak. Menemani anak main pun juga perlu tenaga ekstra. Kalau gak diawali dengan sarapan, biasanya Buk Bi gampang marah dan akhirnya pengen makan anak sendiri. Hahaha. Semoga tulisannya bermanfaat dan bisa membantu para emak yang sedang belajar dan gak PD masak, tapi juga pengen menyiapkan menu yang cepat dan sehat untuk keluarga tercinta.