Sunday, 26 August 2018

Ketika Sabia Tongue Tied (Bagian 1)


Sabia, 13 September 2014
Kala itu, menjadi seorang calon ibu membuat saya bersemangat untuk belajar banyak hal. Fokus saya pada saat itu adalah menggali informasi sebanyak mungkin tentang ASI karena keinginan untuk berhasil menyusui selama 2 tahun sangat besar. Begitu Sabia; Bi; lahir ke dunia, ternyata menyusui tidak semudah yang saya bayangkan. Di bulan kelima usianya, Bi ternyata termasuk bayi tongue tied dan harus di-insisi. Apa itu tongue tied dan insisi? Di bawah ini, saya akan mencoba berbagi kisah tentang perjuangan saya ketika menyusui Bi.

28 Agustus 2014 pukul 16.20 Bi dikeluarkan dari perut saya. “Air ketubannya sudah hijau, Bu,” kata dokter yang meangani saya di meja operasi.
“Akhirnya kamu keluar juga, Ndhuk. Alhamdulillah, “ syukur saya panjatkan.
Perjuangan baru saja dimulai karena PR pertama yang harus dilakukan seorang ibu setelah operasi adalah belajar memiringkan badan, belajar duduk dan belajar berjalan. Duh,ternyata nyerinya terasa amat sangat menyiksa, ya? Selagi saya terus memulihkan diri selama di rumah sakit bersalin, Bi juga langsung tidur sekamar dengan ibunya.  Sayangnya, ketika saya ingin mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), fasilitas kesehatan tersebut tidak melayani IMD. Kecewalah saya untuk kedua kalinya. Ketika saya gagal melakukan persalinan secara normal, itu merupakan kekecewaan saya yang pertama. Ah , sudahlah. Allah sudah sangat baik karena disaat semua dokter kandungan di Madiun sedang seminar di Bali, masih ada satu dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit bersalin tersebut. Sudah merasa gagal sebagai ibu baru selama dua kali, membuat saya bertekad untuk sukses menyusui sampai 2 tahun. Ya, harus!

Selama empat hari tiga malam di rumah sakit, selama itu pula ASI saya belum kunjung keluar. Jadi sejak lahir, Bi mengonsumsi susu formula. Namun saya juga tetap menyusuinya untuk merangsang payudara agar segera memproduksi ASI. Situasi yang sungguh membuat frustasi karena kondisi pascaoperasi belum pulih dan di saat yang bersamaan ASI belum keluar.

Ketika kembali ke rumah, Bi juga sangat menguji ibunya. Dia hampir setiap malam rewel. Saya juga dilanda kelelahan yang amat sangat karena harus terjaga sepanjang malam, menggendong dan membuatkan susu untuknya. Pagi menjelang, saya jugamasih  harus mencuci botol susunya. Suami yang sangat mendukung saya memberi ASI juga paham bahwa saat itu mungkin memang susu formula menjadi solusi untuk sementara waktu. Tapi akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya ingin berhasi ng-ASI. Saya meminta suami untuk menguatkan dan yang paling sulit adalah menyampaikan niat ini ke orangtua. Bapak dan ibu sangat menentang keputusan saya karena beliau berdua berkeyakinan bahwa produksi ASI anaknya memang kurang, tidak cukup untuk Bi. Disertai sedu sedan tangis saya di depan beliau, keputusan tetap tidak tergoyahkan. Saya ingin menyusui walaupun dengan susah payah!

Saya mulai menyimpan susu formula dan botol-botolnya. Bismillah, saya terus menyusui Bi dengan satu payudara karena puting sebelah kiri saya datar. Ya, saya tahu walaupun sebenarnya bayi tidak menyusu pada puting, tapi pada areloa payudara. Namun saya tidak ingin menambah beban stres karena Bi tidak mau menyusu di payudara kiri. Jadi, satu payudara pun juga sudah cukup. Perjuangan baru saja dimulai ketika makin hari saya menyadari bahwa Bi menyusu tak seperti bayi pada umumnya. Bi menyusu lama sekali. Berjam-jam. Pernah suatu waktu, saya menyusuinya dari pukul 11 siang sampai pukul 3 sore tanpa jeda! Saya mulai gelisah dan mencoba menghubungi komunitas Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Facebook. Saya menceritakan apa yang terjadi. Seorang konselor lakstasi di grup tersebut menyarankan untuk segera memeriksakan ke dokter spesialis anak karena mungkin Bi mengalami tongue tied. Dignosa awal ini sesuai dengan apa yang saya bayangkan. “Jadi, Bi termasuk tongue tied?” batin saya.

BERSAMBUNG …

No comments:

Post a Comment