Thursday, 7 June 2018

PULANG




source: pixabay.com
Aroma mudik sudah mulai semerbak di setiap sudut kota. Pun, di komplek perumahan saya. Semakin berkurang penghuninya karena satu persatu mulai mengangkat koper mereka menuju kampung halaman masing-masing. Sepertinya memang di Indonesia saja, ya, yang kental dengan nuansa mudik ini?                                                                                                                                                              
Saya dan suami berasal dari kota yang sama, Madiun. Sebelum menikah, suami mencoba peruntungannya untuk mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pasuruan dan diterima. Pasca-menikah, kami menjalani hubungan jarak jauh Pasuruan – Madiun. Suami yang sering ke Madiun tiap akhir pekan kemudian kembali ke Pasuruan pada Senin dini hari. Setelah setahun, saya mulai diboyong ke Pasuruan, kota yang sama sekali tak pernah terlintas untuk saya tinggali. Sejauh ini, yang membuat saya betah berada di sini adalah karena baksonya yang enak dan dekat dengan Surabaya, kota dimana kakak perempuan dan kakak ipar saya menetap. Ketika tidak memungkinkan untuk pulang ke Madiun, mengunjungi kakak-kakak sudah cukup untuk mengobati kerinduan dengan keluarga.

Sebagai pasangan yang bertipe homesick dan merupakan anak bungsu, hidup jauh dari orangtua bisa dikatakan gampang-gampang susah. Terasa mudah ketika di setiap libur lebaran dan libur akhir tahun, kami bisa menghabiskan waktu sepuasnya dikampung halaman. Dibandingkan dengan kakak-kakak kami, saya sekeluarga akan sampai di Madiun pertama kali dan menjadi orang terakhir yang pamit pulang untuk kembali ke perantauan. Sebaliknya, mudik terasa susah ketika ada tanggal merah tertera di kalender dan kebetulan long weekend. Kami lebih memilih untuk tidak pulang karena semuanya terasa berat. Ya berat di ongkos bensin dan berat jiwa raga, capek di jalan. Namun jika kerinduan akan kampung halaman sudah dirasa akut, kami tetap nekat pulang walaupun hanya menghabiskan dua sampai tiga malam saja untuk melepas kangen dengan Bapak-Ibu.

Jarak Madiun - Pasuruan sempat saya keluhkan jauh ketika pertama kali mendapati bahwa calon suami bekerja disana. Kakak lah yang mematahkan kegelisahan tersebut dengan mengatakan bahwa jarak itu dekat, naik bis juga sampai. Selama masih ada kendaraan yang bisa ditempuh, semua terasa dekat. Ya benar juga, sih. Saya jadi kembali teringat salah satu pantangan yang pernah bersemayam di pikiran. Bahwa kelak saya tidak ingin mendapatkan suami yang bekerja diluar Jawa dan kemudian kami harus menghabiskan hidup disana. Sudah tak terbayang beratnya. Ketika Allah sudah mengabulkan itu, kok ya kesannya masih kurang bersyukur saja mendapati Pasuruan sebagai tujuan hidup selanjutnya.

Saya sering takjub dengan perjuangan teman-teman yang setelah menikah diboyong suaminya keluar Jawa. Malah ada yang tinggalnya sampai di pelosok hutan. Jauh dari pusat kota, fasilitas kesehatan dan lainnya. Semuanya sungguh tak mudah. Walupun mungkin dari segi finansial, pemasukan tiap bulannya tergolong besar, tapi di lubuk hati terdalam, siapa yang bisa menyelamnya. Kegelisahan karena hidup jauh dari keluarga besar pasti tak terelakkan. Ada salah seorang sahabat yang tahun ini tidak bisa mudik ke Jawa karena suaminya harus tetap bertugas di Hari Raya. Pilihan terbaiknya adalah tetap pulang ke Jawa selama sepekan lebih di awal Ramadhan lalu. Sahabat yang lain, ada di Jakarta. Setiap tahun juga selalau berburu tiket kereta api jauh-jauh hari untuk mudik ke Jawa.  Berita baik juga datang dari teman-teman yang merantau ke Borneo dan Dumai, Riau. Mereka juga akan pulang ke Jawa lebaran kali ini. Membaca kabar yang mereka tuliskan di media sosial saja sudah membuat saya ikut berbahagia. Betapa kerinduan dan sepi yang selama ini terbungkus oleh kehidupan rantau, sebentar lagi akan mereka lepaskan bersam keluarga tercinta.

Hidup merantau mungkin sulit tapi kita juga pasti menemukan hal baru disana. Tetangga baru, teman-teman baru dan jelas bahwa semuanya akan melahirkan cerita  serta pengalaman baru. Namun, apabila kesempatan dan kondisi memungkinkan, pulanglah walau sejenak. Jikalau keberadaan orangtua membuat kita makin merindu, terkadang pulang memang harus diusahakan dan dipaksakan. Ber-birul walidain-lah, teman-teman.  Selamat mudik.


No comments:

Post a Comment