![]() |
| source: pixabay.com |
Aroma mudik sudah mulai semerbak
di setiap sudut kota. Pun, di komplek perumahan saya. Semakin berkurang
penghuninya karena satu persatu mulai mengangkat koper mereka menuju kampung
halaman masing-masing. Sepertinya memang di Indonesia saja, ya, yang kental
dengan nuansa mudik ini?
Saya dan suami berasal dari kota
yang sama, Madiun. Sebelum menikah, suami mencoba peruntungannya untuk
mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pasuruan dan diterima.
Pasca-menikah, kami menjalani hubungan jarak jauh Pasuruan – Madiun. Suami yang
sering ke Madiun tiap akhir pekan kemudian kembali ke Pasuruan pada Senin dini
hari. Setelah setahun, saya mulai diboyong ke Pasuruan, kota yang sama sekali
tak pernah terlintas untuk saya tinggali. Sejauh ini, yang membuat saya betah
berada di sini adalah karena baksonya yang enak dan dekat dengan Surabaya, kota
dimana kakak perempuan dan kakak ipar saya menetap. Ketika tidak memungkinkan
untuk pulang ke Madiun, mengunjungi kakak-kakak sudah cukup untuk mengobati
kerinduan dengan keluarga.
Sebagai pasangan yang bertipe homesick dan merupakan anak bungsu, hidup
jauh dari orangtua bisa dikatakan gampang-gampang susah. Terasa mudah ketika di
setiap libur lebaran dan libur akhir tahun, kami bisa menghabiskan waktu
sepuasnya dikampung halaman. Dibandingkan dengan kakak-kakak kami, saya
sekeluarga akan sampai di Madiun pertama kali dan menjadi orang terakhir yang
pamit pulang untuk kembali ke perantauan. Sebaliknya, mudik terasa susah ketika
ada tanggal merah tertera di kalender dan kebetulan long weekend. Kami lebih memilih untuk tidak pulang karena semuanya
terasa berat. Ya berat di ongkos bensin dan berat jiwa raga, capek di jalan. Namun
jika kerinduan akan kampung halaman sudah dirasa akut, kami tetap nekat pulang
walaupun hanya menghabiskan dua sampai tiga malam saja untuk melepas kangen
dengan Bapak-Ibu.
Jarak Madiun - Pasuruan sempat
saya keluhkan jauh ketika pertama kali mendapati bahwa calon suami bekerja
disana. Kakak lah yang mematahkan kegelisahan tersebut dengan mengatakan bahwa
jarak itu dekat, naik bis juga sampai. Selama masih ada kendaraan yang bisa
ditempuh, semua terasa dekat. Ya benar juga, sih. Saya jadi kembali teringat
salah satu pantangan yang pernah bersemayam di pikiran. Bahwa kelak saya tidak
ingin mendapatkan suami yang bekerja diluar Jawa dan kemudian kami harus
menghabiskan hidup disana. Sudah tak terbayang beratnya. Ketika Allah sudah
mengabulkan itu, kok ya kesannya masih kurang bersyukur saja mendapati Pasuruan
sebagai tujuan hidup selanjutnya.
Saya sering takjub dengan
perjuangan teman-teman yang setelah menikah diboyong suaminya keluar Jawa. Malah
ada yang tinggalnya sampai di pelosok hutan. Jauh dari pusat kota, fasilitas
kesehatan dan lainnya. Semuanya sungguh tak mudah. Walupun mungkin dari segi
finansial, pemasukan tiap bulannya tergolong besar, tapi di lubuk hati
terdalam, siapa yang bisa menyelamnya. Kegelisahan karena hidup jauh dari
keluarga besar pasti tak terelakkan. Ada salah seorang sahabat yang tahun ini
tidak bisa mudik ke Jawa karena suaminya harus tetap bertugas di Hari Raya.
Pilihan terbaiknya adalah tetap pulang ke Jawa selama sepekan lebih di awal
Ramadhan lalu. Sahabat yang lain, ada di Jakarta. Setiap tahun juga selalau berburu
tiket kereta api jauh-jauh hari untuk mudik ke Jawa. Berita baik juga datang dari teman-teman yang
merantau ke Borneo dan Dumai, Riau. Mereka juga akan pulang ke Jawa lebaran
kali ini. Membaca kabar yang mereka tuliskan di media sosial saja sudah membuat
saya ikut berbahagia. Betapa kerinduan dan sepi yang selama ini terbungkus oleh
kehidupan rantau, sebentar lagi akan mereka lepaskan bersam keluarga tercinta.
Hidup merantau mungkin sulit tapi
kita juga pasti menemukan hal baru disana. Tetangga baru, teman-teman baru dan
jelas bahwa semuanya akan melahirkan cerita
serta pengalaman baru. Namun, apabila kesempatan dan kondisi
memungkinkan, pulanglah walau sejenak. Jikalau keberadaan orangtua membuat kita
makin merindu, terkadang pulang memang harus diusahakan dan dipaksakan. Ber-birul
walidain-lah, teman-teman. Selamat
mudik.

No comments:
Post a Comment